Halaman

Kamis, 30 Agustus 2012

Kembali ke perantauan

Hari ini, Senin tanggal 27 Agustus 2012 adalah hari terakhir saya berada di kampung halaman setelah 2 minggu pulang. Sengaja bangun pagi-pagi sekali untuk mengejar kereta prameks tujuan kutoarjo. Saat itu masih pukul 4 pagi dan adik saya mengantar saya ke Stasiun Tugu Jogjakarta. Tiba di stasiun langsung beli tiket dan setengah berlari langsung masuk kereta dan mencari posisi. Beruntung, beberapa detik kemudian kereta berangkat dan saya tidak ketinggalan.

Sejam kemudian sampailah saya di Stasiun Kutoarjo, di sini saya menunggu deka. Kami berencana balik ke ibukota bersama-sama menggunakan motor.Kurang lebih 1,5 jam saya disini. Kemudian deka datang dengan motor kebanggaannya. Dia juga membuat tempat bagasi di jok belakang, barang-barang kami taruh di sana. Tepat pukul 7 pagi, kami berangkat.

Perjalanan masih terbilang lancar dengan rute melewati Jalur Selatan, dari Kutoarjo bablas terus melewati Kebumen, Banyumas, hingga Cilacap. Motorpun digeber hingga titik maksimal, sedikit berbahaya tapi karena jalanan masih lengang jadi tidak apa-apa. Melewati Ciamis kami istirahat berhenti di Pom bensin unuk isi bensin, makan, sholat, dan istirahat. Saat itu sudah jam 12 siang.

Setelah istirahat dirasa cukup, kami melanjutkan perjalanan kembali pukul 13.00 . Kali ini saya yang di depan. Perjalanan dilanjutkan melewati Tasikmalaya-Ciawi-Nagrek dan kemudian masuk Kabupaten Bandung, disini mulai terjebak macet, karena mesti melewati kota Bandung yang padat. Perjalanan pun sedikit terhambat. Setelah melewati Bandung kami istirahat di Dangdanam (kalau tidak salah). Perjalanan kemudian dilanjutkan kembali menuju Purwakarta-Cikampek, disini mulai terjadi antrean kendaraan utamanya kendaraan roda empat atau lebih. Beruntung bagi kami, motor masih bisa melaju meski pelan-pelan melewati celah antar kendaraan. Kemudian sampailah kami di Cikampek. Dari Cikampek segera menuju Karawang-Cikarang-Bekasi, disini dituntut kewaspadaan ekstra, bagaimana tidak saat itu sudah malam dan lampu jalan tidak semua tempat ada sementara motor-motor banyak sekali. Bisa dikatakan pada jalur ini lawan kita hanya motor tapi jumlahnya banyak, dan kecepatannya sangat tinggi. Miris juga, bahkan lampu merah tetap diterobos oleh para pengendara motor ini. 

Sampailah kami di Bekasi sekitar jam setengah sepuluh malam. Kemudian masuk Ibukota Jakarta sekitar jam 10. dan mendarat dikosan dengan selamat sekitar jam 11 kurang.


Kembali ke perantauan, kembali membawa harapan-harapan, kembali menjalani rutinitas, kembali mengukir kisah yang diharapkan menjadi hal terindah yang dapat diceritakan kembali saat pulang ke kampung halaman  kelak. 
Tak ada oleh-oleh yang dibawa, hanya semangat dan motivasi baru untuk mengarungi kerasnya kehidupan anak rantau.

Senin, 06 Agustus 2012

For whom the bells toll

For whom the bells toll, sebuah lagu yang dibawakan oleh band metallica ini berulang kali saya mainkan di laptop, entah kenapa tidak ada bosan-bosannya. Grup Band yang digawangi oleh James Hetfield, Kirk Hammet, Lars Ulrich, dan Robert Trujillo ini memang menjadi salah satu band favorit saya. Dengan hits For whom the bells toll dari mereka seperti menghipnotis saya. Apalagi versi livenya benar-benar menambah semangat dan sedikit banyak berhasil melupakan masalah - masalah yang mendera. Give me some spirit to kick out the problem inside my head. Hell Yeahh !!

Make his fight 
On the hill in the early day 
Constant chill deep inside 

Shouting gun 
On they run 
Through the endless grey 

On they fight 
Are they right 
Yes, but who's to say? 

For a hill men would kill 
Why? 
They do not know 
Stiffened wounds test their pride 

Men of five 
Still alive through the raging glow 
Gone insane 
From the pain that they surely know 
[ Lyrics from: http://www.lyricsfreak.com/m/metallica/for+whom+the+bell+tolls_20092043.html ] 
For whom the bell tolls 
Time marches on 
For whom the bell tolls 

Take a look 
To the sky 
Just before you die 
It's the last time he will 

Blackened roar 
Massive roar fills the crumbling sky 
Shattered goal 
Fills his soul with a ruthless cry 

Stranger now 
Are his eyes to this mystery 
He hears the silence so loud 

Crack of dawn 
All is gone 
Except the will to be 

Now they see what will be 
Blinded eyes to see 

For whom the bell tolls 
Time marches on 
For whom the bell tolls...



Jumat, 03 Agustus 2012

Menuju Puncak Para Dewa, Semeru

Saat itu, hari biasa, tidak ada yang istimewa. Saya lupa tangal berapa. Salah dua teman (sebut saja Deka dan Samsu) menghampiri saya dan mengajak naik ke Semeru. Semeru adalah gunung tertinggi di Pulau Jawa (3676 mdpl). Saya pun tak terlalu peduli, walaupun dalam hati kecil ini masih menyimpan hasrat untuk kembali ke alam tapi karena situasi dan kondisi saat ini mengakibatkan saya berpikir naik gunung sudah bukan jamannya lagi, bisa dibilang saya sudah pensiun dari yang namanya kepecinta alaman. Selain itu juga karena merasa balung tuwo jadi agak sedikit takut kalau nantinya gak kuat ndaki.

Hari pun berganti, tiba-tiba datang sekelebat pencerahan yang membuat saya semangat menggebu-gebu untuk kembali menghirup udara kebebasan, kembali mendengarkan senandung alam, kembali ke tempat dimana jauh dari peradaban. Tak buang waktu saya langsung menghubungi teman saya tersebut untuk memastikan keikutsertaan saya. Akhirnya kami putuskan untuk naik bertiga (saya, Deka, Samsu), berangkat naik bis pada hari sabtu tanggal 14.

14 Juli 2012
Benar-benar diburu waktu, selain harus mempersiapkan keperluan mendaki, saya juga harus membuat tugas dari kampus, akhirnya dengan sedikit meminta bantuan dari teman tugas tersebut saya 'titipkan'.
Pukul 13.00 siang kami berkumpul di basecamp wanasetya. setelah re-packing sebentar kami pun
siap berangkat.


pukul 14.00 kami bertiga diantar menggunakan motor menuju pool bis Kramat Djati di dekat Lebak Bulus.
Sampai di sana sekitar pukul 15.00, bis belum datang. Pukul 16.30 akhirnya bis yang akan mengantar kami telah datang dan siap berangkat menuju Malang (Kramat Djati Exe Jur. Jakarta-Malang Rp 265.000,-). Kami pun duduk dengan nyaman di dalam bis, menikmati perjalanan selama kurang lebih satu hari.

15 Juli 2012
Pukul 15.00 sampailah kami di Terminal Arjosari Malang. Kami pun langsung mengisi perut dengan makanan yang menurut kami cukup unik, yakni bakso bakar. Kami menunggu jemputan dari teman (noval) yang sebelumnya udah janjian, karena kami berinisiatif untuk menginap satu malam dulu di rumah noval tersebut. Kamipun menyempatkan diri jalan-jalan di kota Malang.



16 Juli 2012
Pagi-pagi sekali kami telah siap untuk pergi, langsung saja menuju ke Pasar Tumpang dan kabar baiknya kami diantar oleh noval, ya lumayan ngirit ongkos :p. Sampai di Pasar Tumpang sekitar pukul 09.00, kamipun belanja logistik terlebih dulu sembari mencari angkutan menuju Ranu Pane (basecamp awal pendakian Semeru). Beruntung sekali kami mendapat tawaran dari orang yang mau menjemput team jejak petualang di Ranu Pane, sehingga jeep kosong dan kami cuma dikenakan biaya Rp 40.000,- tiap orang. FYI ongkos naik jeep biasa Rp 450.000,- sekali jalan dengan kapasitas 10-15 orang. jadi berapapun yang naik harganya tetap segitu. 


Sebelum sampai basecamp kami diharuskan mendaftar dan mengurus perijinan dan juga membayar biaya administrasinya (saya lupa berapa).


Pukul 12.00 kami sampai di basecamp Ranu Pane. Setelah membayar jeep kami langsung melapor untuk melakukan pendakian. Tak lupa mengisi perut dulu. 
Pukul 12.30 diawali dengan doa kami pun mulai melangkahkan kaki menuju puncak para dewa, mahameru. Kami menuruni jalan aspal dan sampai di semacam gapura pintu gerbang pendakian Semeru. Dalam hati, inilah awal perjuangan kita. 

Trek awal masih melewati persawahan penduduk dan sedikit menanjak. Kemudian Mulai memasuki Hutan dan jalan sedikit landai. Kami berjalan mengelilingi bukit. Tujuan pertama kami adalah Ranu Kumbolo, sebuah danau yang sangat indah.




Kurang lebih 3 jam perjalanan, dari kejauhan kami sudah melihat panorama yang di luar nalar keindahan manusia, Ranu Kumbolo. Air yang tenang membuatnya terlihat seperti cermin raksasa yang memantulkan refleksi-refleksi keindahan yang hanya bisa dibuat oleh Sang Maha Pencipta Yang Maha Agung. Kami pun diam sejenak, meresapi keindahan, bersyukur, dan mengabadikan momen dalam jepretan kamera sembari beristirahat. Setelah cukup, kami meneruskan perjalanan ke bawah ke pinggir danau untuk ngecamp dan bermalam di sana. 




Pukul 16.30 kami sudah sampai di tanah lapang di pinggir danau. Di sana sudah banyak pendaki lain yang berisitirahat. Kami pun mencari tempat untuk mendirikan tenda. Setelah mendapati tempat yang pas, kami langsung membuat tenda. Sambil menikmati senja di Ranu Kumbolo kami mulai masak. Malam pun semakin larut, suhu udara sangat dingin menusuk, saya kaget, dengan ketinggian yang masih terbilang 'rendah' sekitar 2400 mdpl, dinginnya sudah seperti ini, bagaimana dengan di puncak sana. langsung saja saya membuka tas carrier mencari sleeping bag, dan jaket. Badan sudah terbungkus rapi tapi tetap saja dingin, akhirnya kami memutuskan untuk main kartu sekalian menunggu ngantuk. Kamipun akhirnya tidur setelah bosan bermain kartu. Saya sangat tersiksa sekali dengan udara dingin di Ranu Kumbolo, tidur tidak pulas, acapkali terbangun kedinginan. Mungkin karena lelah jadi tertidur juga.

17 Juli 2012
Pagi hari sektitar pukul 05.45 saya terbangun dan segera membangunkan kedua teman saya, tapi hanya deka yang mau bangun, samsu masih terlalu malas membuka sleeping bagnya. pemandangan di luar benar-benar menghipnotis saya, udara dingin yang turun dari lereng bukit ketika mencapai permukaan danau seketika berubah menjadi kabut, benar-benar seperti di film. Saya pun tersadar, ini juga ada dalam ilmu meteorologi. Jauh-jauh ke Semeru fenomena meteorologipun masih saya temukan. Keluar dari tenda saya mendapati fakta yang menarik, minyak goreng yang kami taruh luar menjadi es, air sisa di piringpun menjadi es, kami juga melihat bulir-bulir es di rumput dan di atas tenda. Sungguh fenomena yang aneh. Maka tak heran semalam itu suhunya sangatlah dingin, mungkin sudah mencapai minus. 





Pukul 08.00 kami masak, makan, dan beres-beres untuk memulai perjalanan kembali. Pukul 09.30 kami telah siap, carrier sudah di punggung. Setelah berdoa dan melakukan ritual kami pun memulai perjalanan awal melalui Tanjakan Cinta, sebuah jalan yang langsung mendaki dengan ketinggian lumayan. Mitosnya, barang siapa yang berhasil mendaki Tanjakan Cinta tanpa menoleh ke belakang sambil memikirkan seseorang yang dicintainya maka keinginan cintanya akan terkabul. Entah benar atau salah mitos ini. 


Tanjakan Cinta pun terlewati, lagi-lagi kami disuguhi pemandangan yang bikin orang geleng-geleng kepala, Oro-Oro Ombo, sebuah padang rumput yang sangat luas. Sabana atau Stepa ya namanya? lupa saya. Pokoknya mirip di Afrika sana. Selain padang rumput ternyata terdapat padang lavender juga. Gila, keren sekali. 


Setelah melewati Oro Oro Ombo kami memasuki hutan Cemara, biasa disebut Cemoro Kandang. Sesekali puncak Mahameru dengan pasirnya terlihat jelas, membuat kami semangat lagi untuk meneruskan langkah. 



Akhirnya kami sampai di Kalimati pukul 12.00. Kalimati merupakan sungai bekas aliran lava, di sini  banyak terdapat pendaki lain yang ngecamp. 

Setelah sedikit berpikir kamipun melanjutkan perjalanan menuju Arcopodo dengan harapan supaya nantinya saat summit attack (muncak) tidak terlalu jauh jaraknya. Perjalanan dari kalimati ke Arcopodo sangat berat, saya baru merasa inilah pendakian yang sesungguhnya. Karena jalan sangat terjal dan selalu naik berulangkali saya hampir putus asa. 2 Jampun berlalu, akhirnya sampai juga di Arcopodo. Hawa di Arcopodo sangat lain, agak gimana gitu. Kamipun ngecamp di atas Arcopodo. Waktu saat itu sudah jam 15.00.  Kami istirahat, makan, dan tiba-tiba deka cerita mistis yang membuat bulu kuduk merinding. Hingga harus berpikir ulang kalau mau buang air. Pukul 20.00 kami memutuskan untuk langsung istirahat.


18 Juli 2012
01.00 dini hari saya terbangun dan segera membangunkan yang lain. Sesekali terlihat cahaya senter dari pendaki lain yang jalan melewati kami. Setelah siap-siap, pukul 01.40 tepat kami sudah siap untuk summit attack, carrier dan tenda kami tinggal, hanya bawa minum, senter dan barang kecil lain. Jalan begitu menanjak dan berdebu, kami pun terpisah, deka berjalan di depan, diikuti saya dan samsu di belakang sendiri. Sejam berlalu, saya melewati batas vegetasi terakhir, langsung memasuki gunung pasir . Medan begitu berat, 3 kali melangkah maka akan 'melorot' dua langkah. Benar-benar menguras energi, sesekali saya terjatuh, batu-batu pijakan juga sangat rapuh untuk jatuh, jadi mesti berhati-hati karena bisa membahayakan pendaki di bawahnya. Pada ambang ini berulang kali saya hampir putus asa, udara dingin yang begitu menusuk membuat tangan hampir mati rasa. Dan bodohnya, saya tidak pakai sarung tangan, memakai celana pendek, tidak pakai penutup kepala, dan alas kaki juga cuma sepatu sandal dengan membuat kaus kaki. Inilah yang membuat perjalanan saya sedikit terhambat. Kaki sangat sakit terkena batu-batu yang tajam yang masuk ke sela-sela sandal. Sesekali saya istirahat hampir tertidur dan pastinya sangat sangat kedinginan. Putus asa pun terbayang, tapi entah kenapa saya tetap saja jalan. Tiba-tiba lewat pendaki lain dengan style sama seperti saya, menambah semangat karena merasa ada yang senasib dengan saya. Puncak masih begitu jauh, kabut mulai muncul, menambah dingiinnya pagi itu. Jalan terus menanjak, hingga terlihat bayang-bayang matahari terbit. Saya segera mempercepat langkah karena merasa sedikit terlambat, waktu sudah hampir sunrise tapi puncak masih belum kelihatan. 
Dari kejauhan deka sudah memanggil-manggil, saya pun mempercepat langkah dan sampailah saya di Puncak Mahameru. Entah saya harus bilang apa. Rasa lega bercampur bahagia. Tangan mati rasa, rambut basah, hidung meler terbayar semua dengan rasa syukur yang tak terkira. Saya sampai di puncak sekitar pukul 06.30, sementara deka sudah sampai terlebih dahulu, kami pun lalu menunggu samsu. Sejam kemudian samsu pun datang, kami langsung meminta dia mengeluarkan kamera. Ketika hendak difoto tiba-tiba baterainya habis. dicoba sekali lagi tetap tidak bisa. Yah apa boleh buat, keadaan di puncak tidak dapat diabadikan dengan kamera. Sedikit kecewa, tapi mau bagaimana lagi, yang penting telah sampai puncak itu sudah lebih dari cukup. Tak lama kami di puncak, cuaca yang berkabut membuat keadaan tambah dingin memaksa kami cepat turun. 
Kami pun langsung turun kembali ke camp. Setelah mekan seadanya, kami langsung beres-beres dan siap turun. Kami ingin mengejar waktu suapaya tidak kemalaman sampai basecamp Ranu Pane, dan semoga mendapat angkutan kembali ke malang. Kamipun turun dengan cepat dengan sesekali istirahat namun tidak terlalu lama. Waktu itu hujan mulai turun tapi masih gerimis. Sampailah di Ranu Kumbolo lagi sekitar Pukul 12.00, kami istirahat sambil menghabiskan logistik. tak lama hujan turun lumayan deras memaksa kami memakai jas hujan. 
Kamipun meneruskan perjalanan. Akibat hujan, trek menjadi licin, sesekali saya terpeleset, bahkan ada pendaki lain yang masuk ke pinggir jurang. untung saja tidak jatuh terlalu dalam. Sekitar pukul 17.00 kami sampai di basecamp Ranu Pane. Setelah melapor, kami pun mencari angkutan. Ada rombongan lain yang akan naik truck turun ke Tumpang kami pun meminta nebeng, setelah berdiskusi dengan sopir trucknya, deal, kamipun akan turun dengan truck (Rp 30.000,-  per orang). 
Pukul 18.30 truck berangkat. di dalam truck belasan orang dan kami berdiri layaknya sapi, tapi tak masalah namanya juga petualangan. Sampai di Tumpang sekitar pukul 20.30 kami segera mencari makan malam. Kemudian dilanjutkan perjalanan ke Malang naik angkot (@ Rp 7.000,-). Sampailah kami di Terminal Arjosari, Malang. Kemudian noval kami hubungi dengan niat numpang tidur semalam lagi. Tapi hapenya tidak aktif memaksa kami mencari penginapan untuk tidur semalam. Akhirnya dapat penginapan di dekat stasiun malang (semalam Rp 75.000,-). 

19 Juli 2012
Pagi hari sekitar pukul 09.00 kami terbangun dan siap-siap balik ke Jakarta. Setelah beres-beres kemudian check out. Kami jalan kaki dari penginapan ke Stasiun yang jaraknya tidak terlalu jauh sembari menikmati suasana kota Malang.

Pukul 12.30 noval datang ke stasiun, menyerahkan tiket yang kami pesan, dan dia juga akan balik ke jakarta bareng kami. Pukul 13.30 kereta yang kami tumpangi bergerak meninggalkan kota Malang menuju Jakarta (KA Senja Singosari (Kediri) @ Rp 250.000,-). 
Sampai di Jakarta Alhamdulillah dengan selamat sekitar jam 06.00 dan dilanjutkan naik bisa dan angkot menuju Pondok Betung. Sampailah saya di kos tercinta. 
Berjuta kisah yang terekam tak kan pernah terlupa. Semeru, sensasimu benar-benar gila. 

(Saat orang bilang akan guna dan manfaat, aku berkata akan keindahan dan kedamaian - Gie)

Rabu, 01 Agustus 2012

Bangkit dari kubur

ya sesuai judulnya, bangkit dari kubur... setelah sekian lama tidak mengurusi blog yang jelek ini, tiba-tiba tidak ada angin tidak ada hujan saya tergerak untuk mengaktifkan kembali...
saran dan kritik sangat dinanti...
salam olahraga