Halaman

Senin, 02 Desember 2013

Perjalanan Jogja - Lombok, Mengunjungi Megahnya Gunung Rinjani

Suntuk, bosan, penat, mungkin masalah klasik bagi tiap orang yang selalu diliputi rutinitas –rutinitas monoton. Hal itu juga yang saya rasakan kala itu. Kuliah yang mungkin sudah ‘sedikit santai’ namun dipusingkan dengan tugas akhir. Dan saya pun berpikir, setelah melewati kepusingan ini waktu saya tidak lama lagi. Maksudnya setelah itu saya lulus dan kembali ke tempat pengabdian di ujung timur wilayah Indonesia, Papua. Jadi waktu saya untuk menikmati Pulau Jawa dan sekitarnya tidak akan lama lagi. Rencana jangka pendekpun tercipta, saya harus jalan-jalan. Dan jalan-jalan yang saya maksud adalah naik gunung. Di Indonesia ini ada 3 gunung yang menjadi impian saya, Semeru, Rinjani, dan Kerinci. Karena saya sudah mengunjungi Semeru tahun lalu, maka pilihan jatuh di antara Rinjani atau Kerinci. Gayungpun bersambut, teman-teman saya mengajak untuk naik Gunung Rinjani. Okelah, tak perlu pikir panjang, saya langsung mengiyakan ajakan tersebut, meski rencana tersebut masih sebatas wacana.  FYI, Rinjani adalah Gunung api tertinggi kedua di Indonesia dengan ketinggian 3726 mdpl dan terletak di Pulau Lombok, NTB.

Seiring berjalannya waktu, kamipun semakin memantabkan diri untuk mendaki Rinjani. Segalanya kami persiapkan, mulai dari rundown pendakian, dana, peralatan, transportasi, dll. Saat itu kami masih belum fix kapan waktu yang akan digunakan. Saya pun dipusingkan dengan ketidak jelasan agenda dari kampus. Takutnya rencana pendakian ini berbenturan dengan acara kampus. Disamping itu saya memiliki agenda lain, yaitu nonton konser Metallica (seperti yang saya ceritakan sebelumnya) dan itu butuh biaya yang tidak sedikit. Sayapun jadi bingung kalau memenuhi kedua agenda saya ini karena dua-duanya butuh biaya besar. Saya pun berpikir sejenak dan sedikit galau. Akhirnya saya putuskan keduanya tetap harus terlaksana bagaimanapun caranya karena pengalaman itu sangat berharga.

Yap, akhirnya tanggal 2 September 2013 kami berangkat dari Yogyakarta untuk mendaki Rinjani. Personil kami saat itu berjumlah 9 orang (Saya, Angga, Roshid, Irul, Budi, Firman, Simoh, Barqun, dan Demet). Kami naik kereta ekonomi Sri Tanjung (Rp 50.000,-) dari Stasiun Lempuyangan Yogyakarta. Sekitar pukul 8 pagi kereta berangkat menuju Banyuwangi. Namun salah seorang teman kami, Demet, terpaksa harus menyusul naik bus karena tidak kebagian tiket kereta. Di Solo, satu teman kami (Catur) juga ikut bergabung. Jadi total saat itu yang naik kereta berjumlah 9 orang. Di dalam kereta ternyata banyak sekali pendaki-pendaki lain. Perjalanan sangat lama dan cukup membosankan karena saya sudah tidak sabar mendaki Rinjani. Kira-kira jam 20.45 WIB, kereta sudah sampai di Banyuwangi. Kemudian kami berjalan keluar menuju pelabuhan Ketapang yang jaraknya tidak terlalu jauh dari stasiun. Namun sebelum meneruskan perjalanan kami istirahat sembari mengisi perut. Pukul 22.30 WIB kami naik kapal fery dari Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi menuju Pelabuhan Gilimanuk, Bali. Waktu tempuh kira-kira 1-2 jam. 


3 September 2013
Tiba di Pelabuhan Gilimanuk waktu sudah menunjukkan pukul 01.30 WITA. Teman saya yang lain langsung mencari angkutan menuju Pelabuhan Padang Bai. Sementara saya dan seorang teman saya (Angga) masih menunggu di Pelabuhan Gilimanuk menanti Demet yang belum sampai. Cukup lama saya dan Angga menanti, kira-kira pukul 04.00 WITA, Demet akhirnya muncul juga. Setelah Sholat Shubuh sebentar kami bertiga langsung mencari angkutan. Namun karena pada saat itu angkutan yang langsung menuju Pelabuhan Padang Bai sudah tidak ada maka kami terpaksa menuju Terminal Ubung terlebih dahulu.

Sampai di Terminal Ubung sekitar pukul 09.00 WITA. Kemudian kami lanjut dengan mencharter angkot menuju Pelabuhan Padang Bai, dan sampai di sana sekitar pukul 11 siang dan kami pun berkumpul kembali ber10. Setelah beres-beres, mandi, sholat, dan makan, kamipun beranjak naik kapal menuju Pelabuhan Lembar, Lombok. Kira2 5-6 jam kami di atas kapal, dan ketika sampai di Pelabuhan Lembar, waktu telah menunjukkan pukul 19.30 WITA. 

Kemudian kami mencharter 2 mobil untuk mengantarkan kami menuju Aikmel. Setelah sampai di Aikmel, sedikit terjadi miskomunikasi dengan sopir yang akan membawa kami ke basecamp Sembalun. Akibatnya perjalanan agak tertunda, setelah bernegosiasi akhirnya kami berangkat juga menuju Sembalun menggunakan truck. 


Hawa dingin begitu menyayat kulit kala itu, terpaksa kami meringkuk kedinginan di atas bak truck. Hingga akhirnya tengah malam kami sampai di basecamp pendakian Gunung Rinjani, Sembalun. Di dalam suatu bangunan semacam pos pelaporan, beberapa pendaki sudah tertidur terbungkus sleeping bag. Kamipun tak mau kelamaan, dan segera mencari posisi, badan sudah lelah dan kamipun segera beristirahat.

4 September 2013
Pagi-pagi kami bangun, beres-beres, bersih-bersih, dan re-packing.  Setelah itu kami naik pick up menuju titik awal pendakian. Sekitar pukul 10 pagi dimulailah langkah awal kami mendaki gagahnya Rinjani. Trek yang terbilang masih landai, dengan menyusuri bukit-bukit kecil kami lalui dengan cukup lancar. Pemandangan terhampar dengan indah. Mirip daerah di New Zealand, dimana bukit-bukit kecil disertai rumput dan ilalang yang terhampar luas, hijau, dan menyejukkan mata, meski kala itu panas terik mendera. Sapi-Sapi gembala pun turut mewarnai perjalanan kami. Salah satu keunikan mendaki Rinjani adalah begitu banyaknya Bule yang kami temui, mungkin Rinjani telah menjadi primadona di kalangan wisatawan mancanegara. 

Panas yang begitu menyengat cukup menguras energi saya. Sesekali kami beristirahat dan melepas lelah. Jam 4 sore kami telah sampai di pos 3. Di sini kami berencana menginap semalam dan melanjutkan perjalanan esok hari. Di pos 3 ini banyak pendaki lain yang juga ngecamp, kami saling berbincang dan berbagi makanan, begitu hangat dan menyenangkan. Malam semakin larut, kamipun akhirnya terlelap.
 



5 September 2013
Setelah puas beristirahat, setelah rasa lelah cukup terobati, kamipun siap-siap untuk melanjutkan perjalanan dengan tentu saja sarapan terlebih dahulu. Perjalanan kali ini melewati trek yang lebih terjal dari kemarin. Hal ini cukup menyulitkan kami dalam memanage waktu perjalanan. Beberapa teman kami sudah jalan jauh di depan, sementara saya dan beberapa teman yang lainnya berada di belakang. Sekitar 6 jam, kamipun akhirnya sampai di lokasi camp berikutnya, yaitu Plawangan Sembalun. Waktu itu jam sudah menunjukkan pukul 16.30 . Kamipun mendirikan tenda, masak, dan melepas lelah. Di sini kami harus mewaspadai monyet-monyet liar, bagaimana tidak, monyet-monyet itu selalu mencuri makanan jika kita kurang sigap.  Kamipun akhirnya tidur untuk bersiap-siap summit attack besok dini hari.
 
6 September 2013
Pukul 01.30 kami bangun, sedikit merapikan tenda, dan mempersiapkan segala kebutuhan summit attack. Kami hanya membawa tas kecil dengan barang seperlunya, sementara tenda dan carrier kami tinggal. Tentu saja tenda ditutup rapat-rapat supaya makanan yang ada tidak dicuri oleh monyet. Sejenak berdoa, kamipun telah siap untuk melanjutkan perjalanan kembali. Hawa dingin sangat menusuk. Untung saja saya memakai celana panjang, sepatu, dan sarung tangan (belajar dari pendakian Semeru yang lalu .red). Trek terjal dan sedikit memutar mewarnai perjalanan awal kami untuk menuju puncak. Kemudian saya melewati trek berpasir, mirip Semeru. Sangat menguras tenaga. Meski puncak terlihat tidak begitu jauh, namun entah mengapa tak sampai-sampai juga. Belum mencapai puncak, namun matahari sudah akan muncul, dan ya benar saja saya tidak dapat menikmati sunrise di puncak, tapi tak mengapa, meski demikian, keindahan sunrise dari ketinggian tetap tidak ada tandingannya. Udara kala itu sangat-sangat dingin, untung saja tidak berkabut sehingga tidak memperparah keadaan.  Hampir 6 jam saya habiskan untuk mendaki puncak Rinjani, sangat melelahkan, dan sangat dingin. 

Akhirnya saya berhasil mencapai puncak sekitar pukul 8 pagi, saya tak terlalu ingat pastinya. Perasaan pertama yang muncul adalah rasa syukur. Saya benar-benar bersyukur telah mencapai puncak, kemudian dilanjut rasa bahagia dan terharu. Di puncak angin begitu kencang namun cuaca sangat cerah memanjakan kami dalam berfoto. Pemandangan begitu indah. Di bawah sana terlihat Danau Segara Anak, besar, garang, dan mengagumkan. Di bagian lain terdapat lautan awan, yang begitu memanjakan mata. Sayang, dua orang teman kami tidak dapat mencapai puncak sehingga tidak dapat ikut menikmati pemandangan ini. 
 

 
 

 
Puas menikmati puncak dan bernarsis ria, kamipun turun. Sepanjang perjalanan turun dari puncak, saya disuguhi pemandangan Danau Segara Anak yang begitu jelas di sisi kiri saya. Benar-benar indah. Saya segera mempercepat langkah karena matahari begitu terik. Dan sayapun akhirnya sampai kembali di tenda. Di sana terdapat banyak sekali monyet yang mengelilingi tenda-tenda para pendaki yang selalu siap untuk menerkam makanan yang dibawa pendaki jika lengah. Oleh karenanya kita harus selalu waspada. Bagaimana tidak, beberapa suplai makanan kami pun tak luput dari serangan para monyet. 

 
 
 

Sembari menikmati makan siang, kamipun sedikit galau mengenai arah perjalanan kami selanjutnya. Hal ini dikarenakan, teman-teman kami dari STAN mendapat panggilan mendadak untuk segera pemberkasan CPNS. Apakah kami harus meneruskan perjalanan menuju Segara anak lalu turun melalui basecamp Senaru ataukah kembali turun melalui basecamp Sembalun. Hal ini dikarenakan jika melalui Segara Anak waktu tempuh lebih lama sehingga ditakutkan tidak sempat untuk mengejar waktu. Akhirnya kami putuskan untuk kembali saja melalui basecamp Sembalun. Meski bayang-bayang keindahan Danau Segara anak yang tidak dapat kami rasakan dari dekat. Tak apalah, lain kali bisa ke sini lagi. Akhirnya kamipun turun kembali menuju basecamp Sembalun.

Dalam Perjalanan menuju basecamp Sembalun, kami sedikit tersesat dikarenakan mencoba jalan yang bukan kami lewati sebelumnya. Akhirnya kami sampai di suatu tempat (saya lupa namanya) yang juga merupakan titik awal pendakian Rinjani namun bukan basecamp Sembalun. Karena waktu telah larut, sekitar pukul 22.00 kami putuskan untuk istirahat di sana. Kami tidur di semacam pondokan milik warga. 

7 September 2013
Pagi hari kami segera mencari angkutan dan meluncur menuju Lombok. Dikarenakan tujuan kami berbeda-beda, ada yang mau jalan-jalan dulu di Lombok, ada yang mau langsung balik lewat Pelabuhan Lembar, adapula yang balik menggunakan pesawat sehingga harus menuju bandara. Sehingga dari pada mencar-mencar, kami sepakat untuk menuju Terminal Mandalika, Lombok terlebih dahulu. Dari basecamp kami naik pick up, sepanjang perjalanan kamipun menjumpai monyet-monyet liar di pinggir jalan. Hingga akhirnya kami harus berganti angkutan. Lupa saya dimana. Di sana kami naik semcam angkot untuk menuju Terminal Mandalika, Lombok. Hal unik namun menegangkan terjadi saat kami akan memasuki terminal. Angkot kami dibajak, ya dibajak oleh calo-calo terminal. Dengan menghardik, mereka bertanya tujuan kami, dan memaksa untuk memenuhi keinginan mereka. Kamipun dibawa menjauhi terminal sembari dipaksa macam-macam. Akhirnya sambil berbisik-bisik, kamipun sepakat untuk menjawab kami sudah dijemput teman di terminal. Dengan sedikit ngotot kamipun memaksa untuk kembali ke terminal. Akhirnya kami kembali ke terminal dan menunggu teman. Tak berapa lama teman kami datang. 

Kamipun dibawa ke rumah teman, atau boleh saya bilang senior saya di kampus (mbak Nisa). Turut serta kawan seangkatan saya (Franky) mendampingi. Di rumah mbak Nisa kami disuguhi makan. Terimakasih sekali, mbak. Teman saya yang STAN (Budi, Roshid, Simoh, Catur) langsung menuju bandara untuk pulang menggunakan pesawat. Barqun dan Irul kembali ke terminal Mandalika untuk naik bus menuju Surabaya. Firman naik taksi menuju Pelabuhan Lembar. Sementara saya, Angga, dan Demet tetap tinggal di Lombok. Saya tinggal di rumah dinas teman saya, Frangki. Kami dibawa jalan-jalan mengelilingi kota Lombok. 

8 September 2013
Kami berempat (saya, Angga, Demet, Franky) kembali menjelajah kota Lombok dan sempat mengunjungi senior kami, mbok Kadek Setyawati dan tak lupa menjejakkan kaki di Pantai Senggigi. Malam itu  saya memutuskan untuk segera menyeberang ke Bali bersama Angga. Sementara Demet masih mau berlama-lama di Lombok. Kamipun diantar ke Pelabuhan Lembar. Kami segera naik ke kapal. 

9 September 2013
Kapal yang saya tumpangi telah bersandar di Pelabuhan Padang Bai, Bali. Kalau tidak salah waktu saat itu pukul 03.00 WITA. Kamipun dijemput oleh teman kami, Putu. Di Bali kami berjalan-jalan. Bahkan bisa dibilang kami telah mengelilingi seluruh Pulau Bali. Besoknya, kami mengunjungi teman kami lagi, yaitu Kadek. Dan akhirnya saya dan Angga memutuskan pulang pada tanggal 11 september 2013 menggunakan pesawat dari Bali menuju Surabaya. Sesampainya di Surabaya, saya dan Angga berpisah. Saya meneruskan perjalanan ke Yogyakarta, sementara Angga ke Sidoarjo.


Begitulah kisah panjang perjalanan saya mengunjungi Lombok, mendaki Rinjani. Meski beberapa tempat tak dapat saya kunjungi, namun saya begitu bahagia masih diberi kesempatan menikmati keindahan, denyut nadi kehidupan sosial, dan pengalaman baru di tempat yang belum pernah saya datangi. Saya sangat berterimakasih sekali kepada teman-teman pendakian saya, teman-teman angkatan saya (Franky, Putu, Kadek), senior-senior saya (mbak Nisa, mbok Kadek), dan berbagai pihak yang telah membantu saya.
Tak ada rasa sesal terasa, justru rasa candu yang membuncah untuk segera menginjakkan kaki kembali di Lombok, di Gunung Rinjani. 
   


Tidak ada komentar:

Posting Komentar