Halaman

Minggu, 01 Juni 2014

JKT48 from my perspective

Awalnya saya terlebih dahulu mengenal AKB48, walau tidak terlalu banyak tahu. Karena saya belum pernah sama sekali melihat video perform maupun klip mereka, hanya sebatas mendengar nama mereka. Saya pun hanya tertarik 3 lagu mereka (setelah mendapat rekomendasi dari teman saya yang anak metal dan dia tahu bagaimana selera saya, haha), yaitu : Sanjou, Korogaru ishi ni nare, dan suifu wa arashi ni yume wo miru. Karena lagu tersebut menurut saya ‘Metal’ banget. Mungkin sedikit ditambah sentuhan distorsi sudah jadi lagu metal. Di sini lah saya mulai respect dengan grup ini. Dalam hati bergumam, hmm.. ini grup tidak sama dengan boyband / girlband kebanyakan, untuk masalah musik dan lagunya, karena jujur saya tidak pernah benar-benar memperhatikan penampilan mereka, hanya modal mp3 hasil downloadan. Kemudian terdengarlah gaung JKT48. Saya pun menarik kesimpulan JKT48 sama seperti AKB48, hanya beda di bahasa lirik lagu saja.

Setelah JKT48 sering tampil di tv, anggapan awal saya adalah sekelompok anak-anak remaja putri yang menari dan menyanyi (walaupun lipsync) dengan penuh semangat dan memakai pakaian yang (maaf) memperlihatkan paha mereka. Menurut saya memang terlihat kurang etis bagaimana ‘seragam’ mereka. Bukan berarti saya munafik, karena kalau boleh jujur, laki-laki mana yang tidak suka dengan pemandangan seperti itu. Hanya saja untuk masalah etika di masyarakat kog agaknya kurang pas apalagi jika dikaitkan dengan agama, akan tambah runyam masalahnya #nosara. Namun saya tidak ingin mengkritisi cara berpakaian mereka karena itu hak masing-masing individu atau mungkin mereka sebenernya hanya ‘diharuskan’ memakai itu oleh manajemen mereka. Mungkin di sinilah banyak perdebatan, para haters pasti menyudutkan JKT48 hanya jual paha dan tampang, sementara  para fans membela dengan menganggap pakaian seperti itu sudah sering ditemui di kota-kota besar, di mall, di kafe, di jalan, dsb jadi sudah dianggap wajar. Well memang benar, tapi namanya public figure atau mungkin idola yang sering muncul di tv pastilah banyak orang yang melihat dan menilai yang menuai banyak tanggapan dan kontroversi. Masalah kedua yang sering memicu perdebatan adalah Lipsync, ya penampilan JKT48 di konser-konser kebanyakan Lipsync, jarang sekali minus one kecuali saat theater (menurut info yang saya baca, maklum belum pernah ke theater). Yap kalau saya boleh bilang, lipsync sangat mengurangi nilai dari sebuah penampilan dan saya sangat membencinya. Namun setelah baca sana-sini dan argument para fans JKT48 mengenai mengapa JKT48 melakukan lipsync, saya pun bisa memakluminya. Masalah terakhir yang sering menuai kritikan adalah fansnya, beberapa haters bahkan menyebutnya sebagai wotalay. Memang kadang fans JKT48 sedikit berlebihan tapi saya angkat topi dan begitu salut bagaimana mereka sangat loyal, kompak, dan keren saat chanting serta mengayunkan lightstick. Membuat saya merinding saking kerennya, mungkin hal ini seperti yang saya rasakan ketika nonton konser metal dan nonton bola dengan supporter fanatik.

Petaka itu muncul ketika salah satu teman saya mengirimkan suatu link di DM twitter saya. Karena saya makhluk selo dan sedikit penasaran, sayapun membuka dan mendownloadnya. Ternyata itu adalah video DVD konser pekenalkan nama kami JKT48. Mau tak mau saya coba menontonnya dengan khidmat. Kelar nonton, kesan saya beragam, mulai dari keren, mantab, enerjik, cantik, imut, menambah semangat, dll. Semenjak itu saya pun menjadi tertarik dengan grup ini dan berusaha menggali lebih dalam lagi mengenai JKT48 dan 48 Group. Hanya dalam waktu sebulan koleksi video saya sudah mencapai 21GB dari jerih payah mendownload. Mulai dari video konser, video klip, variety show, behind the scene, interview, berita-berita, bahkan video-video ringan hasil fancam. Sayapun sering browsing di berbagai web, blog, maupun forum mengenai JKT48 dan 48 family lainnya. Sayapun terkesima dengan konsep grup idola ini, bagaimana cara mereka melayani fansnya, bagaimana marketingnya, bagaimana shownya, audisinya, anggotanya, dll. Semua itu hal yang baru di Indonesia. Bagaimana sebuah grup dibentuk dengan menjual proses bukan hasil. Dan menurut saya sang total produser Akimoto-san adalah orang yang jenius. Semenjak itu saya tak henti-hentinya melihat video JKT48 dan selalu haus akan video-video terbaru lainnya. Musik yang begitu ciamik dengan suara riff gitar yang gahar diselingi melodi yang skillfull, penampilan member yang cantik dan enerjik dengan koreografi yang rumit, lirik yang mungkin sedikit aneh ketika ditransalasi ke bahasa Indonesia namun mengandung pesan yang baik, penonton yang kompak dengan chantmix dan lightstick, dan konsep grup ini pada umumnya menjadikan saya menyukai grup idola ini. Saya menyukai JKT48 hanya sebatas musik dan perform mereka di atas pentas, syukur-syukur bisa nonton konser / theater mereka, kalau bisa saya juga akan membeli CD original (maklum saya jauh dari peradaban) namun tidak terlalu tertarik untuk mengikuti handshake event, memberi gift pada member, atau caper berlebihan ke member. Mungkin bisa dibilang saya fans abal-abal ya, haha. Banyak orang memang masih skeptis dengan grup ini, mereka menganggap para fans JKT48 itu cuma nafsu belaka untuk melihat member, pedofil, alay, annoying, kurang kerjaan, dan tanggapan miring lainnya. Well tiap orang punya pendapat masing-masing, tapi ibarat pepatah ‘Tak kenal maka tak sayang, you don’t even know if you’re not one of them’

Saya sempat berpikir apakah jiwa metal saya telah sirna? Namun ternyata tidak juga, saya masih menikmati lagu-lagu metal. Ternyata bukan saya saja yang terjebak di kondisi undescribable seperti ini, banyak anak metal lain yang juga menyukai JKT48. Contoh terdekat ya teman saya yang merekomendasikan lagu AKB48 yang saya sebutkan di awal tadi. Haha. Dan ternyata ex gitaris Megadeth (Band Metal yang merupakan The big four Thrash Metal bersama Metallica, Anthrax, dan Slayer) Marty Friedman pun mengcover lagu-lagu AKB48 seperti Heavy Rotation dan Aitakatta. Well mengutip salah satu komen di youtube ‘Heavy Metal or Heavy Rotation? Why not both.’