Sekali-sekali sharing ilmu lah. Kali ini saya ingin membahas mengenai salah satu fenomena cuaca yaitu El Nino. Monggo disimak sembari makan kacang. :)
Glosarry :
EL NINO
El
Nino menurut sejarahnya adalah sebuah
fenomena yang teramati oleh para penduduk atau nelayan Peru dan Ekuador yang
tinggal di pantai sekitar Samudra Pasifik bagian timur menjelang hari Natal
(Desember). Fenomena yang teramati adalah meningkatnya suhu muka laut yang
biasanya dingin. El Nino adalah
fenomena memanasnya suhu muka laut di Samudera Pasifik ekuator (khususnya
bagian tengah dan timur) dari keadaan normal [NOAA, 2005]. Fenomena ini mengakibatkan terjadinya konveksi di
atmosfer di atasnya. Sehingga curah hujan di wilayah tersebut akan meningkat
dan berpengaruh terhadap daerah – daerah di sekitarnya termasuk Indonesia. El Nino merupakan fenomena
lautan-atmosfer skala global [Philander,1990].
Kondisi demikian terjadi secara berulang dalam setiap periode 3-8
tahun dan biasanya berkaitan dengan indeks osilasi selatan yang bernilai
negatif.
LA NINA
La
Nina adalah fenomena alam yang berskala
global dan mempunyai siklus yang tidak reguler. Dampak yang kita rasakan adalah
terjadinya bencana banjir dan meningkatnya intensitas curah hujan pada saat
episode La Nina [Sulistya.dkk., 1998].
La Nina merupakan kebalikan dari El Nino. La Nina menurut
bahasa penduduk lokal berarti bayi perempuan. Peristiwa itu dimulai ketika El
Nino mulai melemah, dan air laut yang panas di pantai Peru – Ekuador
kembali bergerak ke arah barat, air laut di tempat itu suhunya kembali seperti
semula (dingin), dan upwelling muncul kembali, atau kondisi cuaca
menjadi normal kembali. Perjalanan air laut yang panas ke arah barat tersebut
akhirnya akan sampai ke wilayah Indonesia. Akibatnya, wilayah Indonesia akan
berubah menjadi daerah bertekanan rendah (minimum) dan semua angin di sekitar
Samudra Pasifik bagian selatan dan Samudra Hindia akan bergerak menuju
Indonesia. Angin tersebut banyak membawa uap air sehingga sering terjadi hujan
lebat.
Selama periode La Nina, angin
pasat menjadi lebih kuat dari biasanya oleh peningkatan gradien tekanan antara
Samudra Pasifik bagian barat dan timur. Hasilnya, upwelling pun menjadi
lebih kuat di sepanjang pantai Amerika Selatan dengan suhu muka laut yang lebih
dingin dari biasanya di wilayah Samudra Pasifik bagian timur, dan suhu muka
laut yang lebih hangat dari biasanya di Samudera Pasifik bagian barat [Zakir, A dkk., 2009].
PERBANDINGAN
KONDISI NORMAL, EL NINO, DAN LA NINA
Gambar 1.
Sirkulasi Timur Barat pada Kondisi Normal dan Saat El Nino
(sumber :
http://www.bom.gov.au)
Pada kondisi normal, suhu muka laut di perairan
Indonesia cukup hangat, sehingga mengakibatkan naiknya massa udara. Sirkulasi
umum yang terjadi adalah adanya angin pasat timuran yang bergerak menuju
wilayah Indonesia, dimana massa udara dari Pasifik bagian timur bergerak menuju
wilayah Indonesia dan menjadikan wilayah Indonesia sebagai daerah konvergensi.
Pada kondisi El
Nino, suhu muka laut di Pasifik ekuator timur menjadi lebih panas dari pada
kondisi normalnya. Hal ini mengakibatkan konveksi banyak terjadi di daerah
tersebut yang menyebabkan curah hujan meningkat. Banyaknya konveksi menyebabkan
massa udara berkumpul ke wilayah Pasifik ekuator timur, termasuk massa udara
dari Indonesia sehingga wilayah Indonesia curah hujannya berkurang dan di
beberapa wilayah mengalami kekeringan.
Gambar 2. Sirkulasi
Timur Barat pada Kondisi Normal dan Saat La
Nina
(sumber : http://www.bom.gov.au)
Pada saat
kondisi La Nina, suhu muka laut di
Pasifik ekuator timur lebih rendah dari pada kondisi normalnya. Sedangkan suhu
muka laut di wilayah Indonesia menjadi lebih hangat. Sehingga terjadi banyak
konveksi dan mengakibatkan massa udara berkumpul di wilayah Indonesia, termasuk
massa udara dari Pasifik ekuator timur. Hal tersebut menunjang pembentukan awan
dan hujan. Sehingga fenomena La Nina
ditandai dengan terjadinya hujan deras dan angin kencang di wilayah Indonesia
terutama Indonesia bagian timur. Dapat dikatakan sirkulasi saat kejadian La Nina ini sama seperti sirkulasi saat
normal hanya saja angin pasat timur menjadi lebih kuat dari biasanya yang
mengakibatkan konvergensi lebih kuat dan menghasilkan hujan yang lebih besar
dari biasanya.
Glosarry :
1. Upwelling = Aliran pada air laut dimana dari dasar menuju permukaan.
2. Konvergensi = Daerah pertemuan (berkumpulnya) angin, massa udara
bergerak naik
3. Konveksi = Pengangkatan massa udara ke atmosfer akibat pemanasan
(sinar matahari)
Baik konvergensi maupun konveksi menyebabkan tingginya pertumbuhan awan yang memicu curah hujan meningkat.


