Halaman

Jumat, 26 Februari 2016

El Nino

Sekali-sekali sharing ilmu lah. Kali ini saya ingin membahas mengenai salah satu fenomena cuaca yaitu El Nino. Monggo disimak sembari makan kacang. :)

    EL  NINO
El Nino menurut sejarahnya adalah sebuah fenomena yang teramati oleh para penduduk atau nelayan Peru dan Ekuador yang tinggal di pantai sekitar Samudra Pasifik bagian timur menjelang hari Natal (Desember). Fenomena yang teramati adalah meningkatnya suhu muka laut yang biasanya dingin. El Nino adalah fenomena memanasnya suhu muka laut di Samudera Pasifik ekuator (khususnya bagian tengah dan timur) dari keadaan normal [NOAA, 2005]. Fenomena ini mengakibatkan terjadinya konveksi di atmosfer di atasnya. Sehingga curah hujan di wilayah tersebut akan meningkat dan berpengaruh terhadap daerah – daerah di sekitarnya termasuk Indonesia. El Nino merupakan fenomena lautan-atmosfer skala global [Philander,1990]. Kondisi demikian terjadi secara berulang dalam setiap periode 3-8 tahun dan biasanya berkaitan dengan indeks osilasi selatan yang bernilai negatif.

    LA  NINA
La Nina adalah fenomena alam yang berskala global dan mempunyai siklus yang tidak reguler. Dampak yang kita rasakan adalah terjadinya bencana banjir dan meningkatnya intensitas curah hujan pada saat episode La Nina [Sulistya.dkk., 1998]. La Nina merupakan kebalikan dari El Nino. La Nina menurut bahasa penduduk lokal berarti bayi perempuan. Peristiwa itu dimulai ketika El Nino mulai melemah, dan air laut yang panas di pantai Peru – Ekuador kembali bergerak ke arah barat, air laut di tempat itu suhunya kembali seperti semula (dingin), dan upwelling muncul kembali, atau kondisi cuaca menjadi normal kembali. Perjalanan air laut yang panas ke arah barat tersebut akhirnya akan sampai ke wilayah Indonesia. Akibatnya, wilayah Indonesia akan berubah menjadi daerah bertekanan rendah (minimum) dan semua angin di sekitar Samudra Pasifik bagian selatan dan Samudra Hindia akan bergerak menuju Indonesia. Angin tersebut banyak membawa uap air sehingga sering terjadi hujan lebat.
Selama periode La Nina, angin pasat menjadi lebih kuat dari biasanya oleh peningkatan gradien tekanan antara Samudra Pasifik bagian barat dan timur. Hasilnya, upwelling pun menjadi lebih kuat di sepanjang pantai Amerika Selatan dengan suhu muka laut yang lebih dingin dari biasanya di wilayah Samudra Pasifik bagian timur, dan suhu muka laut yang lebih hangat dari biasanya di Samudera Pasifik bagian barat [Zakir, A dkk., 2009].

  PERBANDINGAN KONDISI NORMAL, EL NINO, DAN LA  NINA



Gambar 1. Sirkulasi Timur Barat pada Kondisi Normal dan Saat El Nino
(sumber : http://www.bom.gov.au)

Pada kondisi normal, suhu muka laut di perairan Indonesia cukup hangat, sehingga mengakibatkan naiknya massa udara. Sirkulasi umum yang terjadi adalah adanya angin pasat timuran yang bergerak menuju wilayah Indonesia, dimana massa udara dari Pasifik bagian timur bergerak menuju wilayah Indonesia dan menjadikan wilayah Indonesia sebagai daerah konvergensi.
Pada kondisi El Nino, suhu muka laut di Pasifik ekuator timur menjadi lebih panas dari pada kondisi normalnya. Hal ini mengakibatkan konveksi banyak terjadi di daerah tersebut yang menyebabkan curah hujan meningkat. Banyaknya konveksi menyebabkan massa udara berkumpul ke wilayah Pasifik ekuator timur, termasuk massa udara dari Indonesia sehingga wilayah Indonesia curah hujannya berkurang dan di beberapa wilayah mengalami kekeringan.




Gambar 2. Sirkulasi Timur Barat pada Kondisi Normal dan Saat La Nina
 (sumber : http://www.bom.gov.au)


Pada saat kondisi La Nina, suhu muka laut di Pasifik ekuator timur lebih rendah dari pada kondisi normalnya. Sedangkan suhu muka laut di wilayah Indonesia menjadi lebih hangat. Sehingga terjadi banyak konveksi dan mengakibatkan massa udara berkumpul di wilayah Indonesia, termasuk massa udara dari Pasifik ekuator timur. Hal tersebut menunjang pembentukan awan dan hujan. Sehingga fenomena La Nina ditandai dengan terjadinya hujan deras dan angin kencang di wilayah Indonesia terutama Indonesia bagian timur. Dapat dikatakan sirkulasi saat kejadian La Nina ini sama seperti sirkulasi saat normal hanya saja angin pasat timur menjadi lebih kuat dari biasanya yang mengakibatkan konvergensi lebih kuat dan menghasilkan hujan yang lebih besar dari biasanya.

Glosarry :
1. Upwelling     = Aliran pada air laut dimana dari dasar menuju permukaan.
2. Konvergensi = Daerah pertemuan (berkumpulnya) angin, massa udara 
                              bergerak naik
3. Konveksi       = Pengangkatan massa udara ke atmosfer akibat pemanasan 
                              (sinar matahari)

Baik konvergensi maupun konveksi menyebabkan tingginya pertumbuhan awan yang memicu curah hujan meningkat.

3 komentar: