Hari Pertama (19 September 2017)
Berangkat dari Jakarta (Cengkareng) pukul 06.15 pakai
maskapai “Udara Asia”. Kemudian transit di Kuala Lumpur, Malaysia. Tiba di KL
sekitar jam 9 (waktu KL lebih cepat 1 jam dengan WIB). Kemudian dilanjutkan
penerbangan ke Tokyo pada pukul 14.30. Sembari menunggu keberangkatan,
jalan-jalan dulu kita di bandara. Isi perut dulu. Jujur, makanan di Malaysia
kurang nendang di lidah, gak selezat masakan nusantara pokoknya dah. Jam sudah
menunjukkan jam 13.30, saya yang sedang
menjalankan ritual di kamar mandi mendengar pengumuman keberangkatan, alhasil
buru2 menyelesaikan ritual yang sebenarnya belum tuntas betul. Ketemu istri di
luar eh dianya santai-santai aja. Ternyata dia tidak mendengar pengumuman itu.
Jadilah kita lari-lari imut menuju Gate yang ternyata jauhnya macam
Jakarta-Bekasi. Jauh sekali bos. Ngos-ngosan sampai ke gate dan untungnya kita
tidak terlambat.
Tiba di Bandara Haneda Tokyo pukul 22.30. Muter-muter dulu,
cari minimarket, kemudian cari musholla. Dan ternyata mushollanya bagus, ada
intercomnya di depan pintu untuk bisa masuk ke dalam. Musholla ada di lantai 3
pojok mana entah. Pokoknya pojok. Setelah sholat kita cari tempat duduk buat
tidur. Kita nginap di bandara malam ini, itung-itung irit biaya, hehehe. Istri
langsung terlelap, sementara saya yang orangnya sensitif, gelisah kesana kemari
gak bisa tidur, karena kondisi cukup rame. Mana eskalatornya bikin emosi. Bunyi
mulu. Pokoknya tidak disarankan cari tempat tidur di dekat eskalator. Walhasil
saya cuma tiduran dan tidak benar-benar tertidur.
Bandara Haneda, Tokyo
Hari Kedua (20 September 2017)
Jam 05.00 kita siap-siap. Kemudian menuju Tourist
information center (lupa namanya) buat beli Tokyo Subway Pass dan Kartu Pasmo. Apa
itu? Sebagai negara yang maju, transportasi publik Jepang memang udah
sangat-sangat bagus. Kemana-mana bisa ditempuh pake transport umum. Misal
kereta, subway, bus, dll. Operator yang menjalankannya pun beda-beda, gak
seperti Indonesia yang cuma dikelola PT KAI (untuk urusan perekeratapian).
Rumit memang di Jepang ini. Nah, Tokyo Subway Pass adalah kartu pass khusus
buat wisatawan yang dapat digunakan untuk naik Subway, khusus untuk Tokyo Metro
line dan Toei line. Sementara Kartu Pasmo adalah electronic money yang dapat
digunakan sebagai pengganti uang tunai. Bisa digunakan untuk subway, kereta,
bus, dan belanja di minimarket. Pasmo ini saya beli buat jaga-jaga jika pergi
ke suatu tempat dimana Tokyo Subway Pass gak bisa dipakai (tidak tercover). Kan
ribet kalau beli tiket dulu pakai uang tunai. Jadi di Jepang nih banyak sekali
kartu pass, jadi tinggal disesuain sama kebutuhan agan-agan sekalian. Info
lebih lanjut mengenai : Tokyo Subway pass bisa disimak di sini, Kartu Pasmo di sini.
Cara penggunaan Tokyo Subway pass yaitu kartu tinggal
dimasukan pada mesin loket di stasiun kemudian setelah mesin terbuka di
ujung loket kartu akan keluar dan kita tinggal ambil kartu tersebut. Sementara
kalau Kartu Pasmo tinggal kita tap saja di mesin loket di stasiun.
Tujuan pertama saya adalah Shinjuku Station karena letak
penginapan di daerah Shinjuku. Dari Bandara Haneda naik subway kekyu line
(menggunakan pasmo) menuju Shinawa atau Sengakuji station ya, saya lupa stasiun mana. Hehehe. Dan
dilanjutkan ke Daimon Station barulah kemudian ke Shinjuku Station (menggunakan
tokyo subway pass). Btw, saya booking penginapan pakai airbnb,di sini. Sampai di Shinjuku Station kemudian saya jalan kaki sekitar 1,2
km menuju penginapan. Jam check in sebenernya jam 15.00. Tapi karena datang
kepagian alhasil cuma taruh barang di ruang tengah (kamar belum bisa digunakan
sebelum waktu check in) dan numpang mandi (kebetulan kamar mandi tidak di dalam
kamar tidur). Tapi ingat ya gan, harus bilang ke host penginapannya dulu.
Selesai mandi kita bergegas lagi balik ke Shinjuku Station. Waktu saat itu kira-kira
jam 09.00.
Tiba di Shinjuku Station, saya lalu membeli hakone free pass
untuk 2 hari (walaupun sebenernya cuma digunakan untuk sehari). Tujuan hari ini
adalah ke Hakone. Oiya, saya beli hakone free pass di Shinjuku Station, lupa
dimana tepatnya. Apa itu Hakone free pass? Bisa dicek di mari dan juga di sini.
Sebenernya waktu nyusun itinerary saya bingung harus ke Hakone atau Kawaguchiko. Jadi Hakone dan Kawaguchiko ini sama-sama menawarkan
pemandangan Gunung Fuji dari kejauhan. Nah setealah searching sana sini ada
keunggulan pergi ke hakone dibanding ke kawaguchiko yaitu kalau ke Hakone kita
bisa menggunakan bermacam-macam moda transportasi mulai dari bus, kereta, kereta gantung, hingga kapal. Lengkap dah., sementara kalau ke Kawaguchiko Cuma pakai bus. Jadi yasudahlah pilihan jatuh ke Hakone.
Beli Hakone free pass di Odakyu Sightseeing Center yang
berada di Shinjuku Station. Dari Shinjuku station kemudian naik kereta menggunakan
Odakyu line menuju Odawara Station. Kemudian dilanjut ke Hakone Yumotopakai
Hakone Tozan Train, lanjut lagi ke Gora. Dari Gora langsung naik Hakone Tozan
Cable Car menuju Sounzan. Dilanjut lagi naik Hakone Ropeway (kereta gantung)
menuju Togendai-ko. Di sini kitajalan-jalan dulu di sekitar danau sembari menunggu
kapal berangkat. Sekitar pukul 16.00 penumpang diminta on board ke kapal. Perjalanan
dilanjutkan menggunakan Hakone Sightseeing Cruise menuju Hakone-Machi-ko. Kapal
yang kita tumpangi cukup bagus dan seharusnya dari sini kita bisa melihat pemandangan
Gunung Fuji. Namun sayang kondisi saat itu mendung sehingga sama sekali tak tampak
pemendangan Gunung Fuji yang kita idam-idamkan (lebay). Tiba di Hakone-Machi-ko
kemudian dilanjut naik bus balik ke Odawara Station. Kemudian balik ke Shinjuku
Station. Semua biaya transport tersebut tercover oleh Hakone free pass. Cara
pemakaiannya pun mirip Tokyo Subway pass. Sebenernya cukup rugi saya beli
Hakone free pass 2 days cuma dipakai satu hari. Tapi karena itinerary saya cuma
1 hari di Hakone dan pilihan passnya cuma ada untuk 2 dan 3 hari, jadilah saya ambil
pass tersebut.
Pemandangan dari kereta gantung
Kapal untuk menyebrang danau
Bus di Hakone
Sampai di Shinjuku kepala saya sangat pusing dan lelah.
Mungkin karena faktor makannya sedikit seharian ini dan semalam di bandara tak
tidur, jadi diputuskan untuk langsung balik ke penginapan untuk istirahat.
Sebelum ke penginapan, istri saya dengan sigap membeli makan di Mcd dan KFC,
dan ternyata tidak menyediakan nasi, sodara-sodara. Yasudah kemudian beli makan
di minimarket. Oiya, jika pemirsa bingung makan apa, dan malas untuk makan di
restoran, saya sarankan beli di minimarket. Seperti Lawson, Sevel, maupun
family mart. Karena di sana makanan yang mengandung nasi cukup banyak terutama bagi
penikmat nasi seperti saya dan orang Indonesia pada umumnya. Kalau belum pakai nasi
berasa belum makan. Haha.
Jalan-Jalan ke Jepang
Jalan-Jalan ke Jepang
Tidak ada komentar:
Posting Komentar