Halaman

Sabtu, 25 November 2017

Hari 6 (Arashiyama, Kyoto City, Gion) keliling Kyoto

Hari Keenam (24 September 2017)

Hari ini kita lanjutkan jalan-jalan keliling Kyoto. Tujuan awal adalah ke Arashiyama yang terkenal dengan bamboo groovenya (hutan bambu). Dari Takeda Station dilanjutkan ke Shijo Station, kemudian jalan kaki menuju Karasuma Station. Oiya, selama 3 hari ke depan kita sudah pake Kansai Through pass buat naik kendaraannya. Di Karasuma Station kita sedikit bingung naik kereta yang mana karena terdapat beberapa jenis kereta seperti express, limited express, local, dll. Takutnya kalau naik yang express nanti gk berhenti di Stasiun yang kita tuju. Tapi kalau local takutnya kelamaan karena harus berhenti di tiap stasiun. Ada satu kereta express menuju ke Osaka, tanpa pikir panjang kita naik aja. Sudah was-was kalau gak berhenti di Katsura Station (tempat transit kita). Kemudian istri tanya ke ibu-ibu di sebelah, dan ibunya njelasin kalau bakal berhenti di stasiun tersebut. Syukurlah pikirku. Tapi yang tidak disangka adalah ibu-ibu Jepang itu bahasa inggrisnya lancar, dan bisa sedikit bahasa Indonesia. Usut punya usut, ibunya pernah tinggal di Indonesia. Entah kenapa kog saya ngerasa seneng yak, hahaha. Sepanjang perjlanan kamipun ngobrol macam-macam.

Transit di Katsura Station, perjalanan dilanjutkan menuju Arashiyama Station. Keluar dari Stasiun udah banyak banget wisatawan, kita tinggal ikut arus aja deh, hahaha. Gak perlu takut nyasar. Jalan kaki sebentar sudah terlihat sungai yang lebar dan semacam taman di pinggirnya. Banyak street food juga di sana, ada yang jual takoyaki, eskrim, dll. Karena belum sarapan, kitapun beli jajan dulu, sambil duduk-duduk di pinggir sungai. Oiya, karena waktu itu weekend, banyak wisatawan Korea dan China (sebagai negara tetangga dari Jepang). Mungkin mirip orang Indonesia yang suka piknik ke Singapore di kala weekend. Satu hal yang mencolok dari orang korea terutama ceweknya adalah kulit wajah mereka. Terlihat lebih glowing dan mengkilat pemirsa, dibanding orang Jepang dan China. Mungkin efek produk skincare mereka yang top.

Dari jauh terlihat jembatan (Togetsu Bridge) yang digunakan untuk pergi ke seberang sungai, yaudah ke sana lah kita. Dan setelah menyeberang ternyata rame banget, banyak warung-warung makan di pinggir jalan. Setelah berjalan lurus, kemudian belok kiri masuk ke gang, menyusuri jalan itu dan sampailah kita di bamboo groove, foto-foto dulu. Setelah puas foto-foto, saatnya wisata kuliner. Waktu itu kita nyobain makan siang halal di salah satu restoran. Keren waktu mau pesen, kita harus pilih di mesin dulu. Mirip ATM lah, pencet-pencet menunya, trus bayar dan keluar kertas yang berisi menu yang kita pesan. Menunya kita kasih ke kasir dan kita tinggal duduk menunggu pesanan datang. Harganya emang agak mahal sih, makanya gak banyak orang yang makan di sini. Oiya, kita pesen yang menu halal, karena ternyata di sini menyediakan menu halal.

Arashiyama 

Togetsu Bridge

Becak lagi



Bamboo Groove

Puas berkeliling dan makan-makan di Arashiyama, kita lanjutkan perjalanan ke pusat kota Kyoto. Dari Arashiyama Station lalu menuju Kyoto Station dilanjutkan ke Kawarmachi Station. Istri berniat membelikan saya baju sebagai hadiah ulang tahun. Ultah saya tanggal 21 September kemarin.Yaudah langsung cari Uniqlo di daerah Sanjo. Ini kali pertama saya beli baju di toko seterkenal Uniqlo ini. Biasanya saya Cuma beli baju di abang-abang pinggir jalan. Wkwkwk.  Istri memaksa saya untuk beli kemeja, karena baju saya kebanyakan Cuma kaos hitam yang bergambar band. Yaudah demi menyenangkan istri, dan biar penampilan saya agak gantengan dikit sayapun beli kemeja.

Usai belanja, kita berniat makan ramen di Halal Ramen Naritaya. Kita berjalan lumayan jauh, tapi sepadan lah dengan pemandangan dan pengalaman yang kita dapat. Kita melewati sungai, lihat kerlap kerlip kota, dan lihat pengamen jepang yang bener-bener modal. Gak Cuma asal nyanyi dan bawa kecrekan doang. Kita juga lewat daerah yang bangunannya ‘Jepang banget’, tapi sepi. Mirip di film-film lah. Kayaknya sih warung-warung makan, Cuma entah kenapa tutup semua. Ada kolam kecil juga, jembatan kecil, keren lah pokoknya. Akhirnya setelah menempuh perjalanan yang lumayan jauh dan melelahkan kitapun makan di warung halal ramen Naritaya. Tapi kalau boleh jujur, rasanya gak terlalu lezat dibanding waktu kita makan ramen di Asakusa.





Daerah Gion, Kyoto


Tidak ada komentar:

Posting Komentar