Halaman

Sabtu, 25 November 2017

Hari 5 (Fushimi Inari, Gion) ke ikon Jepang dan Pablo Cheesetart

Hari Kelima (23 September 2017)

Jam 6.30, penumpang diminta siap-siap karena bus akan segera berhenti. Saat itu bus sudah masuk di kawasan Kyoto. Bus bakal berhenti di Gion Shijo Station. Pagi-pagi saya kebelet pipis, untungnya beberapa menit lagi sudah sampai, pipis di stasiun sajalah pikirku. Ketika bus berhenti dan penumpang pada turun, eng ing eng ternyata stasiunnya tidak seperti apa yang ada dalam pikiran saya. Jadi bus berhenti di pinggir jalan, gak ada bangunan sama sekali, Cuma ada papan yang tulisannya Gyon Shijo Station. Ini mah disebut halte aja bukan. Bener-bener bingung harus lanjut kemana untuk sampai ke penginapan. Mau tanya bingung tanya ke siapa, jangankan petugas, bangunanpun gak ada, kita berhenti benar2 di trotoar pinggir jalan dimana berada tepat di pinggir sungai. Pagi-pagi sepi. Udah gitu kebelet juga. Komplit lah penderitaan saat itu.

Tengok kanan kiri, ternyata ada 2 orang cowok cewek muda sepertinya pasangan yang sama-sama penumpang bus tadi. Tanya lah kita ke mereka. Kita tau orang jepang gak jago bahasa inggris, tapi kalau anak muda paling gak taulah dikit-dikit, lagian ini keliatan mereka mahasiswa. Tapi ternyata mereka sama sekali gak tau bahasa inggris. Sementara bahasa jepang saya cuma tau sumimasen sama arigato doang. Pusing dah, akhirnya pake bahasa isyarat dan bahasa tubuh, wkwkw. Tapi sayangnya katanya mereka bukan orang sini jadi kurang paham daerah Kyoto. Yah walaupun gak dapet info apa-apa tapi mereka udah berusaha keras membantu. Orang jepang memang seperti itu kayaknya, kalau kita tanya sesuatu pasti diberi tahu dan berusaha untuk membantu kita sampai tuntas.

Dari pinggir jalan yang di sebut Gion Shijo Station tersebut, dari jauh terlihat ada tangga turun dan ada tulisan Gion Shijo Station. Saya jadi bingung maksudnya apa. Ohh mungkin tempat yang kita turun dari bus itu bukan benar-benar Gyon Shijo Station. Tapi halte untuk menuju Gyon Shijo Station yang sebenarnya. Yaudah deh kita menuju ke tangga itu. Kita menuruni tangga masuk ke dalam tanah, jalan jauuuuh banget, kyaknya sih menyebaring sungai kalau saya lihat di google map. Setelah jalan sampailah di Kawaramachi Station. Setelah menuntaskan kewajiban buang hajat, lanjut naik subway ke Karasuma Station, trus jalannn kaki lagi ke Shijo Station. Dari Shijo Station lanjut naik subway ke Kyoto Station.
Pinggir Jalan Gion Shijo Station

'Gion Shijo Station', cuma papan doang

Sungai pinggir jalan Gion Shijo Station

Di Kyoto Station kita berhenti sebentar berkeliling untuk beli Kyoto 1-day buss pass. dan Kansai through pass. Kenapa beli itu, karena kita akan berada di kansai selama 4 hari (Kyoto, Nara, Osaka). Karena Kansai through passnya hanya untuk 3 hari makanya waktu di Kyoto kita tambah dengan 1-day buss pass. Selain itu harga bus pass juga lebih murah dibanding jika kita naik subway atau kereta. Sedangkan Kansai through pass, selain bisa digunakan di berbagai moda (bus, kereta, subway), itinerary dan tujuan kita tercover semua dengan pass ini. Karena kita tiba di Kyoto Station cukup pagi, banyak counter-counter belum buka. Saya lupa di sebelah mana pastinya untuk membeli kedua pass ini. Yang saya ingat jika ingin beli Kansai Through pass harus naik tangga dan keluar ke bagian depan Kyoto Stasiun. Oiya tiap kita beli pass pasti dikasih brosur baik moda apa saja yang tercover dengan pass tersebut dan juga peta kota dan peta transportasi.

Dari Kyoto Station kita lanjut naik subway ke Takeda Station, turun di Takeda Station kemudian jalan kaki sekitar 600m menuju penginapan. Kami menginap menggunakan airbnb di sini. Lingkungan cukup sepi walaupun di pinggir jalan yang cukup besar. Asyik juga, gak serame di Tokyo. Orang-orang gak banyak yang lalu lalang. Tapi memang sepertinya ini daerah pinggiran Kyoto jadi gak begitu rame. Tiba di penginapan kita lalu istirahat bentar sambil beres-beres.

Sekitar jam 13.00, kitapun jalan. Tujuan kita adalah Fushimi Inari, salah satu icon Kyoto, bahkan ikon Jepang juga. Kita jalan kaki menuju halte bus sesuai nomer bus tujuan kita. Btw, di Jepang, halte bus tetep disebut Station. Bahkan Cuma penanda papan aja tetep disebut Station. Tapi bagusnya di papan itu memuat nomer bus dan jam kedatangan, jadi kita gak terlalu bingung bakal nunggu berapa lama. Gak lama setelah itu kita sudah sampai di halte tujuan, jalan sebentar sudah sampailah kita di Fushimi Inari. Sebelum masuk kita beli es krim matcha dulu. Ini kali pertama saya beli es krim rasa matcha. Harganya cukup mahal sekitar 500 yen. Tapi rasanya bener-bener enak banget. Gak rugi dah. Jalan kaki lagi eh nemu es krim matcha lagi dan kali ini harganya Cuma 350 yen. Dalam hati, wah kita ditipu tadi skayaknya, wkwkwk. Coba beli yang harga 350 yen itu dan ternyata rasanya gak begitu enak. Jadi mikir, pantaslah tadi harganya lebih mahal, maafin aku mbak yang udah suudzon. Hahha.

Setelah itu kita masuk ke kawasan temple dan foto-foto di iconnya Kyoto, yaitu gerbang-gerbang merah yang sering temen-temen liat di internet, aku gatau namanya apa nih. Oiya jadi sebenernya masih ada jalan naik. Gtw ada apa di atas. Tapi kalau liat di peta masih jauh juga. Kita yang napasnya udah kayak orang tua memutuskan gak usah naik tinggi-tinggi. Cukuplah wisata tmplenya. Sekarang saatnya wisata kulineerr. Keluar dari kawasan temple udah disambut banyak street food. Buat yang doyan makan bener-bener dimanjakan, aku aja sampe lupa beli apa aja. Tapi sebelum makan makanan ringan kita makan berat dulu. Di sana ada warung jepang, ada udon, tempura, soba, ramen, dll.

Kitapun masuk, saya lupa pesan apa. Hahaha. Tapi yang jelas, mbaknya salah nangkep apa mau saya. Jadilah pesanan yang datang tidak sesuai. Sayapun protes. Mbaknya bingung, karena kasian, sayapun bilang gapapa pesanannya itu saja gak usah buat ulang, tapi entah kenapa mbaknya bersikeras membuat ulang. Dan yang bikin tambah bingung, mbaknya gak ngerti bahasa inggris. Waduh, omongan saya jadi terkesan marah-marah mungkin di pikiran mbaknya. Padahal maksudnya, saya gak masalah pesanannya gak dibuat ulang. Miskom emang berbahaya pemirsa.  Ya udah saya manut-manut aja, malu diliatin pengunjung lain yang semuanya orang Jepang. Gak ada yang turis kayak saya. Hehehe. Selesai makan yang penting bilang arigatou sama sumimasen aja dah, biar gak sleg. Wkwkwk.






Fushimi Inari

Dari Fushimi Inari, perjalanan kami lanjutkan. Istri pengen banget ngerasain Pablo. Apa itu? Sayapun gak tau. Haha. Ternyata itu semacam cheesetart / cheesecake lah yang lagi hits di Indonesia. Toko Pablo nih deket sama Yasaka Shrine, di daerah Gion. Yaudah dengan modal google map dan peta rute bus, kita berangkat. Nah satu lagi pemirsa yang bikin bingung. Misal, bis jurusan, katakanlah ‘X’. Dia berhenti di satu titik. Dimana kalo di peta, di titik itu juga untuk pemberhentian bis ‘A,B,dst’. Belum tentu bus ‘X,A,danB’ berhenti di tempat yang sama. Tapi bisa jadi bis A dan B berhenti di halte seberang jalan halte bus X. Jadi teman-teman, harus perhatiin jadwal bus di papan haltenya ya. Kalo gak ada jurusan yang sesuai, walapun kalau di peta bus jurusan itu ada di titik situ, coba cek halte di seberangnya.

Habis dari pablo kita cari makan malam, dan nemu juga warung makan Indonesia (lagi). Namanya Bali-bali. Gak jauh dari Pablo. Jadi ya kita Cuma jalan kaki ke sini. Yang jual ternyata orang jepang tapi pernah tinggal di Indonesia. Perut kenyang kitapun balik ke penginapan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar