Hari Kelima (23 September 2017)
Jam 6.30, penumpang diminta siap-siap karena bus akan segera
berhenti. Saat itu bus sudah masuk di kawasan Kyoto. Bus bakal berhenti di Gion
Shijo Station. Pagi-pagi saya kebelet pipis, untungnya beberapa menit lagi
sudah sampai, pipis di stasiun sajalah pikirku. Ketika bus berhenti dan
penumpang pada turun, eng ing eng ternyata stasiunnya tidak seperti apa yang
ada dalam pikiran saya. Jadi bus berhenti di pinggir jalan, gak ada bangunan
sama sekali, Cuma ada papan yang tulisannya Gyon Shijo Station. Ini mah disebut
halte aja bukan. Bener-bener bingung harus lanjut kemana untuk sampai ke
penginapan. Mau tanya bingung tanya ke siapa, jangankan petugas, bangunanpun
gak ada, kita berhenti benar2 di trotoar pinggir jalan dimana berada tepat di
pinggir sungai. Pagi-pagi sepi. Udah gitu kebelet juga. Komplit lah penderitaan
saat itu.
Tengok kanan kiri, ternyata ada 2 orang cowok cewek muda
sepertinya pasangan yang sama-sama penumpang bus tadi. Tanya lah kita ke
mereka. Kita tau orang jepang gak jago bahasa inggris, tapi kalau anak muda
paling gak taulah dikit-dikit, lagian ini keliatan mereka mahasiswa. Tapi
ternyata mereka sama sekali gak tau bahasa inggris. Sementara bahasa jepang
saya cuma tau sumimasen sama arigato doang. Pusing dah, akhirnya pake bahasa
isyarat dan bahasa tubuh, wkwkw. Tapi sayangnya katanya mereka bukan orang sini
jadi kurang paham daerah Kyoto. Yah walaupun gak dapet info apa-apa tapi mereka
udah berusaha keras membantu. Orang jepang memang seperti itu kayaknya, kalau
kita tanya sesuatu pasti diberi tahu dan berusaha untuk membantu kita sampai
tuntas.
Dari pinggir jalan yang di sebut Gion Shijo Station
tersebut, dari jauh terlihat ada tangga turun dan ada tulisan Gion Shijo
Station. Saya jadi bingung maksudnya apa. Ohh mungkin tempat yang kita turun
dari bus itu bukan benar-benar Gyon Shijo Station. Tapi halte untuk menuju Gyon
Shijo Station yang sebenarnya. Yaudah deh kita menuju ke tangga itu. Kita
menuruni tangga masuk ke dalam tanah, jalan jauuuuh banget, kyaknya sih
menyebaring sungai kalau saya lihat di google map. Setelah jalan sampailah di
Kawaramachi Station. Setelah menuntaskan kewajiban buang hajat, lanjut naik
subway ke Karasuma Station, trus jalannn kaki lagi ke Shijo Station. Dari Shijo
Station lanjut naik subway ke Kyoto Station.
Pinggir Jalan Gion Shijo Station
'Gion Shijo Station', cuma papan doang
Sungai pinggir jalan Gion Shijo Station
Di Kyoto Station kita berhenti sebentar berkeliling untuk
beli Kyoto 1-day buss pass. dan Kansai through pass. Kenapa beli itu, karena kita akan
berada di kansai selama 4 hari (Kyoto, Nara, Osaka). Karena Kansai through
passnya hanya untuk 3 hari makanya waktu di Kyoto kita tambah dengan 1-day buss
pass. Selain itu harga bus pass juga lebih murah dibanding jika kita naik
subway atau kereta. Sedangkan Kansai through pass, selain bisa digunakan di
berbagai moda (bus, kereta, subway), itinerary dan tujuan kita tercover semua
dengan pass ini. Karena kita tiba di Kyoto Station cukup pagi, banyak
counter-counter belum buka. Saya lupa di sebelah mana pastinya untuk membeli
kedua pass ini. Yang saya ingat jika ingin beli Kansai Through pass harus naik
tangga dan keluar ke bagian depan Kyoto Stasiun. Oiya tiap kita beli pass pasti
dikasih brosur baik moda apa saja yang tercover dengan pass tersebut dan juga
peta kota dan peta transportasi.
Dari Kyoto Station kita lanjut naik subway ke Takeda
Station, turun di Takeda Station kemudian jalan kaki sekitar 600m menuju
penginapan. Kami menginap menggunakan airbnb di sini. Lingkungan
cukup sepi walaupun di pinggir jalan yang cukup besar. Asyik juga, gak serame
di Tokyo. Orang-orang gak banyak yang lalu lalang. Tapi memang sepertinya ini
daerah pinggiran Kyoto jadi gak begitu rame. Tiba di penginapan kita lalu
istirahat bentar sambil beres-beres.
Sekitar jam 13.00, kitapun jalan. Tujuan kita adalah Fushimi Inari, salah satu icon Kyoto, bahkan ikon Jepang juga. Kita jalan kaki menuju
halte bus sesuai nomer bus tujuan kita. Btw, di Jepang, halte bus tetep disebut
Station. Bahkan Cuma penanda papan aja tetep disebut Station. Tapi bagusnya di
papan itu memuat nomer bus dan jam kedatangan, jadi kita gak terlalu bingung
bakal nunggu berapa lama. Gak lama setelah itu kita sudah sampai di halte
tujuan, jalan sebentar sudah sampailah kita di Fushimi Inari. Sebelum masuk kita
beli es krim matcha dulu. Ini kali pertama saya beli es krim rasa matcha.
Harganya cukup mahal sekitar 500 yen. Tapi rasanya bener-bener enak banget. Gak
rugi dah. Jalan kaki lagi eh nemu es krim matcha lagi dan kali ini harganya
Cuma 350 yen. Dalam hati, wah kita ditipu tadi skayaknya, wkwkwk. Coba beli
yang harga 350 yen itu dan ternyata rasanya gak begitu enak. Jadi mikir,
pantaslah tadi harganya lebih mahal, maafin aku mbak yang udah suudzon. Hahha.
Setelah itu kita masuk ke kawasan temple dan foto-foto di
iconnya Kyoto, yaitu gerbang-gerbang merah yang sering temen-temen liat di
internet, aku gatau namanya apa nih. Oiya jadi sebenernya masih ada jalan naik.
Gtw ada apa di atas. Tapi kalau liat di peta masih jauh juga. Kita yang
napasnya udah kayak orang tua memutuskan gak usah naik tinggi-tinggi. Cukuplah
wisata tmplenya. Sekarang saatnya wisata kulineerr. Keluar dari kawasan temple
udah disambut banyak street food. Buat yang doyan makan bener-bener dimanjakan,
aku aja sampe lupa beli apa aja. Tapi sebelum makan makanan ringan kita makan
berat dulu. Di sana ada warung jepang, ada udon, tempura, soba, ramen, dll.
Kitapun masuk, saya lupa pesan apa. Hahaha. Tapi yang jelas,
mbaknya salah nangkep apa mau saya. Jadilah pesanan yang datang tidak sesuai.
Sayapun protes. Mbaknya bingung, karena kasian, sayapun bilang gapapa
pesanannya itu saja gak usah buat ulang, tapi entah kenapa mbaknya bersikeras
membuat ulang. Dan yang bikin tambah bingung, mbaknya gak ngerti bahasa inggris.
Waduh, omongan saya jadi terkesan marah-marah mungkin di pikiran mbaknya.
Padahal maksudnya, saya gak masalah pesanannya gak dibuat ulang. Miskom emang
berbahaya pemirsa. Ya udah saya
manut-manut aja, malu diliatin pengunjung lain yang semuanya orang Jepang. Gak
ada yang turis kayak saya. Hehehe. Selesai makan yang penting bilang arigatou
sama sumimasen aja dah, biar gak sleg. Wkwkwk.
Fushimi Inari
Dari Fushimi Inari, perjalanan kami lanjutkan. Istri pengen
banget ngerasain Pablo. Apa itu? Sayapun gak tau. Haha. Ternyata itu semacam cheesetart / cheesecake lah yang lagi hits di Indonesia. Toko Pablo nih deket sama Yasaka Shrine, di daerah Gion. Yaudah dengan modal google map dan peta rute bus, kita berangkat. Nah satu lagi
pemirsa yang bikin bingung. Misal, bis jurusan, katakanlah ‘X’. Dia berhenti di
satu titik. Dimana kalo di peta, di titik itu juga untuk pemberhentian bis
‘A,B,dst’. Belum tentu bus ‘X,A,danB’ berhenti di tempat yang sama. Tapi bisa
jadi bis A dan B berhenti di halte seberang jalan halte bus X. Jadi teman-teman,
harus perhatiin jadwal bus di papan haltenya ya. Kalo gak ada jurusan yang
sesuai, walapun kalau di peta bus jurusan itu ada di titik situ, coba cek halte
di seberangnya.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar