Halaman

Sabtu, 25 November 2017

Hari 4 (Shibuya, Yoyogi Park, Harajuku, Takeshita St, Koreatown) keliling Tokyo lagi

Hari Keempat (22 September 2017)

Hari terakhir di Tokyo. Seperti biasa, setelah bangun dan siap-siap kita segera jalan lagi. Dan ternyata, penginapan kita dekat dengan Nishi-shinjuku Station. Kalau tau gini kemarin-kemarin, dari pada jalan kaki ke Shinjuku Station mendingan naik subway dari Nishi-shinjuku. Tapi yasudahlah, yang lalu biarlah berlalu. Dari Nishi-shinjuku ke shinjuku terlebih dahulu baru setelah itu mengarah ke Shibuya. Sampai di Shibuya Station cuss keluar stasiun dan langsung menemui patung anjing Hachiko, inilah tujuan pertama kami. Mau foto bareng patung nih ternyata antri pemirsa. Maklum salah satu ikon shibuya ya patung hachiko ini. Di depan antrian kami ada beberapa ibu-ibu asal Indonesia yang rempong dan sosialita gitu dah, foto-fotonya aja lama banget, padahal banyak yang antri. Tapi kami harus tetap sabar, gak boleh marah apalagi menggurutu ke sesama warga Indonesia. Hehehe. Setelah foto-foto. Kita merasakan ikon shibuya lain yaitu persimpangan jalan, atau Shibuya Crossing street. Sebenernya gak ada yang istimewa, cuma katanya inilah persimpangan jalan paling ramai di Tokyo.  Kita bolak balik nyebrang jalan Cuma buat merasakan keramaian tersebut. Bener-bener kurang kerjaan. Hahaha.  

Shibuya Crossing Street


Patung Hachiko
Dari Shibuya kita lanjut lagi ke Yoyogi Park. Sebenernya gak terlalu jauh dari Shibuya, dan kalaupun kuat bisa ditempuh dengan jalan kaki. Tapi karena kita terlalu males yaudah mending naik subway aja. Dari Shibuya Station menuju Meiji-jingumae Station kemudian menuju Yoyogi-koen Station. Dari Stasiun jalan kaki sekitar 500 m dan tibalah di gerbang Yoyogi Park. Masuk ke taman, ternyata luas banget. Di sini banyak gagak, gan. Ngeri-ngeri sedap, mana besar-besar lagi gagaknya. Suaranya itu loh berisik banget. Kalau teman-teman pernah baca komik crows / worst atau mungkin pernah nonton film crows zero, maka tak heran namanya crows(gagak) karena emang di jepang ini begitu banyak burung gagak. Di tengah-tengah taman terdapat semacam pond / kolam besar. Di pinggirnya ada bangku-bangku memanjang. Di sini kita istirahat dulu, makan roti, foto-foto, dan sambil menikmati pemandangan. Sebelah kita ada bapak-bapak tua main gitar sendirian. Kayaknya memang tempat ini jadi sarana refreshing dan menenangkan pikiran.




Yoyogi Park

Puas istirahat kitapun mengelilingi danau dan segera mencari pintu keluar yang paling dekat dengan Harajuku. Kita keluar bukan melalui pintu yang sebelumnya kita masuk. Oiya di sini kita nemuin takoyaki yang enak banget di deket pintu keluar. Mungkin karena ini takoyaki pertama saya jadinya berasa enak banget. Setelah keluar dari Yoyogi Park kita bergegas menuju kawasan Harajuku. Dalam perjalanan, melewati Pintu masuk Meiji Jingu Shrine (Giant Torii). Semacam gapura/ gerbang dari kayu. 
Giant Torii

Setelah sampai di kawasan Harajuku, kita menuju Takeshita Street, sebuah gang yang rame penjual di pinggir-pinggirnya. Mulai dari makanan, pakaian, pernak pernik, macam-macam dah. Di sini kita cuma mampir makan siang saja di mana ya lupa, Cuma beli kebab nasi. Tiba-tiba langit mendung kayak mau hujan gitu,, wah gawat nih, mana gak bawa payung lagi. Aturan liat prakiraan cuaca dulu yak. Karena udah mau hujan kita buru-buru dah lair-larian ke stasiun, melanjutkan perjalanan sekalian berteduh.
Keramaian Takeshita Street


Dari Harajuku kita lanjut ke korea town karena istri pengen kesana. Saya baru tau ada korea town di jepang. Yaudah deh searching dulu jalan ke sana gimana. Pertama-pertama kita balik ke Shinjuku station dulu melalui harajuku station. Setelah itu ke Shinokubo station. Keluar stasiun trus belok kanan, udah deh di pinggir jalan banyak toko-toko dan warung makan yang papan namanya pake huruf hangeul (bener gak ya namanya), huruf korea gitu lah. Dan di sini banyak banget toko buat perawatan wajah, kosmetik, dll.  Seneng banget kayaknya istri di sini, hasrat belanjanya terpuaskan. Dia beli banyak banget sheet mask, macem-macem jenisnya. Kata istri emang murah harganya, makanya dia mborong banyak.

Hujan tiba-tiba datang, gak deres sih, tapi tetep aja bikin basah. Kita yang gak bawa payung akhirnya jalan di pinggir-pinggir banget supaya gak keujanan karenan ketutupan atap toko. Hari makin sore, kita akhirnya cari makan. Setelah searching ternyata kita tau di sekitar situ ada warung makan Indonesia, namanya Bintang Bali, yaudah tanpa pikir panjang langsung ke sana. Tapi karena bukanya jam 5 sore, dan waktu itu masih jam 16.30, kita pun jalan-jalan dulu dan nemuin Toko Indonesia. Di sini jual produk-produk Indonesia, kayak snack, makanan ringan, jajanan ( eh ini sama semua yak), sama minuman gitu deh. Kitapun beli popmie. Di sekitar situ juga terdapat kawasan muslim dan ada satu lantai di suatu bangunan yang dijadikan ‘masjid’. Kitapun sholat di situ dulu. Jam 5 lewat kitapun menuju warung makan Indonesia Bintang Bali.

Habis makan, kita buru-buru balik ke shinjuku, balik ke penginapan. Mandi, beres-beres, packing. Karena malam ini kita harus naik bus untuk ke Kyoto. Setelah selesai beres-beres kita pengen segera pergi, tapi hujan deres banget, akhirnya ditunda dulu lah. Tapi kog ya gak berhenti-berhenti hujannya. Kitapun nekat menerobos hujan ke stasiun. Dari Nishishinjuku station kita ke Shinjuku station. Turun subway, kita harus cari terminal bisnya, namanya Shinjuku Expressway Bus Terminal 4F. Kita naik bis namanya willer bus yang sudah kita pesan tiketnya saat masih di Indonesia. Buat beli online tiket willer bus bisa dicek di sini. Sumpah kita bingung banget dimana terminalnya, Cuma modal google map, dan gak nemu-nemu. Btw, teman-teman kalau ke shinjuku station harus inget ya keluar/masuk ke gate bagian mana. Karena kalau salah keluar/masuk gate bakal bingung, muter-muter dan jauh. Setelah pencarian panjang akhirnya ketemu juga, pokoknya tuh terminal kita harus keluar stasiuan dulu lewat south exit kalau gak salah. Terus jalan beberapa ratus meter.

Sampai di terminal, bus kita datangnya masih sekitar 1 jam lagi. Dan kita gak perlu tukar tiket/beli tiket. Karena saya udah beli via online dan dapet konfirmasinya via email. Jadi tinggal print atau tunjukkin emailnya ke sopir bisnya. Jam 22.35 bus datang dan perjalanan ke Kyoto dimulai dengan menempuh sekitar 8 jam. Busnya bagus pemirsa, lega, kursinya ada penutup kepalanya, bisa buat tidur dah. Dan saya pun terlelap.

Hari 3 (Asakusa, Akihabara, Tokyo Tower) jalan-jalan keliling Tokyo hingga ke AKB48

Hari Ketiga (21 September 2017)

Pagi-pagi setelah mandi dan bersiap-siap langsung bergegas ke Shinjuku Station. Tak lupa mampir di minimarket buat cari bekal. Setelah itu langsung cari Oedo line. Jujur kalau baru sekali dua kali ke Stasiun ini bakal bingung dan stres karena harus cari line kereta yang tepat dan kalaupun harus pindah line itu jalannya biasanya jauh banget. Yang perlu dibawa adalah peta tokyo subway pass dan pelajari dulu peta tersebut, cari plang / tanda, kalau mentok ya tinggal tanya sama petugas. Setelah Oedo line ditemukan sayapun segera naik ke kereta tersebut. Kemudian transit di Kuramae Station dan berganti menggunakan Asakusa line. Tak lama kemudian tibalah kita di Asakusa Station.

Keluar dari Stasiun langsung berhadapan dengan warung makan, karena belum lapar perjalanan kita lanjutkan. Tak jauh dari situ sudah sampai di jalanan utama yang besar. Banyak tukang becak di sana menawarkan jasanya. Beda dengan becak Indonesia yang dikayuh, ini becak Jepang (Jinrikisha) didorong eh atau ditarik ya, sambil lari gitu abang-abangnya. Ada satu abang menghampiri menawarkan jasanya, awalnya kurang tertarik karena ‘cukup mahal’ tapi karena itung-itung nyobain yaudah kita coba, walaupun kita ambil rutenya yang gak jauh-jauh amat biar agak irit gitu. Haha. Yang penting udah ngerasain. Kemudian kita menuju Sensoji temple melalui pintu bagian Timur (Nitenmon gate), Masuk ke sana ada banyak bangunan, jujur saya gak terlalu mengerti kegunaannya, ada beberapa orang Jepang datang untuk berdoa. Ada pula tempat seperti bak air dengan gayung dari kayu. Beberapa orang mencuci kaki tangan dan kaki dengan air tersebut, sayapun ikut-ikutan.

Abang Tukang becak

Jinrikisha, becak Jepang

Kemudian ada bangunan utama yang besar, sayapun ikut masuk, di sana banyak sekali orang. Ada beberapa yang melemparkan koin dan berdoa agar keinginan terkabul, adapula yang mencoba membaca peruntungannya. Di sana ada tanda dilarang mengambil foto, akan tetapi banyak wisatawan yang dengan cuek mengambil foto. Karena kita wisatawan yang taat aturan, kita tidak mengambil foto di dalam. hahaha. Di dalam komplek temple ini ternyata ada vending machine, karena belum pernah pake vending machine sebelumnya, kita putuskan untuk mencoba dan berhasil. Hore. Bonusnya lagi kita dapat minuman yang enak banget, minuman yang ada rasa-rasa peach atau apa gitu tapi gak terlalu kuat rasanya. Pas lah.

Nitenmon Gate

Asakusa Jinja


Sensoji Temple

Five Story Pagoda


Setelah puas kitapun berjalan menuju pintu utama dan ternyata banyak sekali orang jualannya, baik street food, jual pernak pernik, jual baju, tas, dll. Komplit dah. Di sini hasrat shopping istri cukup terpuaskan. Setelah puas berkeliling temple dan belanja, kita putuskan untuk cari makan. Karena bingung mau makan apa, isenglah searching di halal gourmet, eh ternayata ada warung makan halal tak jauh dari situ. Namanya Mentei Naritaya. Setelah berjalan kaki lumayan dan pencarian yang untungnya tidak terlalu sulit, sampailah kita di rumah makan. Istri pesan ramen saya pesan beefbowl atau ayam. Lupa saya. Ternyata ada tempat sholat juga di lantai atas. Kitapun numpang sholat dulu (cuma cukup buat satu orang ternyata). Di sana ketemu orang-orang Indonesia, kitapun ngobrol ngalor ngidul. Perut kenyang, perjalanan kita lanjutkan.

Hozomon Gate 


Kios-kios penjual

Kawasan Sekitar Asakusa

Halal Mentei Naritaya

Mampir dulu di DonQuijote, entah tempat apa itu, kayaknya sih supermarket biasa. Tapi kata istri tempat itu terkenal yaudah deh mau gak mau mampir buat shopping lagi, ternyata dia cari-cari peralatan kecantikan dan perawatan wajah, pemirsa. Dan... lama banget milih-milihnya, yaudah saya tunggu di luar aja akhirnya.  Setelah istri selesai belanja, kita bergeas kembali ke Asakusa Station dan menuju Akihabara Station, lupa saya transit di Stasiun mana dulu. Tujuan utama ke akihabara sih cuma buat foto di depan AKB48 shop, menuntaskan hasrat kewotaan saya. Hahahah. Puas foto-foto, kita jalan lagi dan mampir makan di Aslan kebab, lumayan dapet makanan halal lagi. Prinsip kita sih cari makan yang halal dulu, kalau gak ada, cari yang seafood atau ayam atau minimal jangan pork beef, kalo gak nemu dan gak ngerti itu makanan apa ya yang penting bismillah aja. Hahaha.

AKB48 Cafe


Kawasan pertokoan Akihabara

Puas berkeliling Akihabara, kita langsung menuju Tokyo tower. Dari Akhibara Stasiun kemudian menuju Kamiyacho  Station. Jalan kaki sebentar kemudian sudah terlihat tokyo tower. Tinggal ikuti saja. Ternyata masih cukup jauh jalan untuk menuju tokyo tower. Sesekali duduk istirahat. Akhirnya sampai juga di tokyo tower. Karena kita traveler kere kitapun cuma foto-foto dari bawah tokyo tower, gak coba masuk ataupun naik.  Hehe. Malam pun semakin larut kitapun memutuskan balik ke penginapan, melalui Akabanebashi Station menuju Shinjuku Station.



Tokyo Tower








Hari 1 dan 2 (Bandara, Shinjuku, Hakone) mencoba melihat Gunung Fuji

Hari Pertama (19 September 2017)

Berangkat dari Jakarta (Cengkareng) pukul 06.15 pakai maskapai “Udara Asia”. Kemudian transit di Kuala Lumpur, Malaysia. Tiba di KL sekitar jam 9 (waktu KL lebih cepat 1 jam dengan WIB). Kemudian dilanjutkan penerbangan ke Tokyo pada pukul 14.30. Sembari menunggu keberangkatan, jalan-jalan dulu kita di bandara. Isi perut dulu. Jujur, makanan di Malaysia kurang nendang di lidah, gak selezat masakan nusantara pokoknya dah. Jam sudah menunjukkan jam 13.30,  saya yang sedang menjalankan ritual di kamar mandi mendengar pengumuman keberangkatan, alhasil buru2 menyelesaikan ritual yang sebenarnya belum tuntas betul. Ketemu istri di luar eh dianya santai-santai aja. Ternyata dia tidak mendengar pengumuman itu. Jadilah kita lari-lari imut menuju Gate yang ternyata jauhnya macam Jakarta-Bekasi. Jauh sekali bos. Ngos-ngosan sampai ke gate dan untungnya kita tidak terlambat.

Tiba di Bandara Haneda Tokyo pukul 22.30. Muter-muter dulu, cari minimarket, kemudian cari musholla. Dan ternyata mushollanya bagus, ada intercomnya di depan pintu untuk bisa masuk ke dalam. Musholla ada di lantai 3 pojok mana entah. Pokoknya pojok. Setelah sholat kita cari tempat duduk buat tidur. Kita nginap di bandara malam ini, itung-itung irit biaya, hehehe. Istri langsung terlelap, sementara saya yang orangnya sensitif, gelisah kesana kemari gak bisa tidur, karena kondisi cukup rame. Mana eskalatornya bikin emosi. Bunyi mulu. Pokoknya tidak disarankan cari tempat tidur di dekat eskalator. Walhasil saya cuma tiduran dan tidak benar-benar tertidur.

Bandara Haneda, Tokyo


Hari Kedua (20 September 2017)
Jam 05.00 kita siap-siap. Kemudian menuju Tourist information center (lupa namanya) buat beli Tokyo Subway Pass dan Kartu Pasmo. Apa itu? Sebagai negara yang maju, transportasi publik Jepang memang udah sangat-sangat bagus. Kemana-mana bisa ditempuh pake transport umum. Misal kereta, subway, bus, dll. Operator yang menjalankannya pun beda-beda, gak seperti Indonesia yang cuma dikelola PT KAI (untuk urusan perekeratapian). Rumit memang di Jepang ini. Nah, Tokyo Subway Pass adalah kartu pass khusus buat wisatawan yang dapat digunakan untuk naik Subway, khusus untuk Tokyo Metro line dan Toei line. Sementara Kartu Pasmo adalah electronic money yang dapat digunakan sebagai pengganti uang tunai. Bisa digunakan untuk subway, kereta, bus, dan belanja di minimarket. Pasmo ini saya beli buat jaga-jaga jika pergi ke suatu tempat dimana Tokyo Subway Pass gak bisa dipakai (tidak tercover). Kan ribet kalau beli tiket dulu pakai uang tunai. Jadi di Jepang nih banyak sekali kartu pass, jadi tinggal disesuain sama kebutuhan agan-agan sekalian. Info lebih lanjut mengenai : Tokyo Subway pass bisa disimak di sini, Kartu Pasmo di sini.


Cara penggunaan Tokyo Subway pass yaitu kartu tinggal dimasukan pada mesin loket di stasiun kemudian setelah mesin terbuka di ujung loket kartu akan keluar dan kita tinggal ambil kartu tersebut. Sementara kalau Kartu Pasmo tinggal kita tap saja di mesin loket di stasiun.

Tujuan pertama saya adalah Shinjuku Station karena letak penginapan di daerah Shinjuku. Dari Bandara Haneda naik subway kekyu line (menggunakan pasmo) menuju Shinawa atau Sengakuji station  ya, saya lupa stasiun mana. Hehehe. Dan dilanjutkan ke Daimon Station barulah kemudian ke Shinjuku Station (menggunakan tokyo subway pass). Btw, saya booking penginapan pakai airbnb,di sini. Sampai di Shinjuku Station kemudian saya jalan kaki sekitar 1,2 km menuju penginapan. Jam check in sebenernya jam 15.00. Tapi karena datang kepagian alhasil cuma taruh barang di ruang tengah (kamar belum bisa digunakan sebelum waktu check in) dan numpang mandi (kebetulan kamar mandi tidak di dalam kamar tidur). Tapi ingat ya gan, harus bilang ke host penginapannya dulu. Selesai mandi kita bergegas lagi balik ke Shinjuku Station. Waktu saat itu kira-kira jam 09.00.

Tiba di Shinjuku Station, saya lalu membeli hakone free pass untuk 2 hari (walaupun sebenernya cuma digunakan untuk sehari). Tujuan hari ini adalah ke Hakone. Oiya, saya beli hakone free pass di Shinjuku Station, lupa dimana tepatnya. Apa itu Hakone free pass? Bisa dicek di mari dan juga di sini.

Sebenernya waktu nyusun itinerary saya bingung harus ke Hakone atau Kawaguchiko. Jadi Hakone dan Kawaguchiko ini sama-sama menawarkan pemandangan Gunung Fuji dari kejauhan. Nah setealah searching sana sini ada keunggulan pergi ke hakone dibanding ke kawaguchiko yaitu kalau ke Hakone kita bisa menggunakan bermacam-macam moda transportasi mulai dari bus, kereta, kereta gantung, hingga kapal. Lengkap dah., sementara kalau ke Kawaguchiko Cuma pakai bus. Jadi yasudahlah pilihan jatuh ke Hakone.

Beli Hakone free pass di Odakyu Sightseeing Center yang berada di Shinjuku Station. Dari Shinjuku station kemudian naik kereta menggunakan Odakyu line menuju Odawara Station. Kemudian dilanjut ke Hakone Yumotopakai Hakone Tozan Train, lanjut lagi ke Gora. Dari Gora langsung naik Hakone Tozan Cable Car menuju Sounzan. Dilanjut lagi naik Hakone Ropeway (kereta gantung) menuju Togendai-ko. Di sini kitajalan-jalan dulu di sekitar danau sembari menunggu kapal berangkat. Sekitar pukul 16.00 penumpang diminta on board ke kapal. Perjalanan dilanjutkan menggunakan Hakone Sightseeing Cruise menuju Hakone-Machi-ko. Kapal yang kita tumpangi cukup bagus dan seharusnya dari sini kita bisa melihat pemandangan Gunung Fuji. Namun sayang kondisi saat itu mendung sehingga sama sekali tak tampak pemendangan Gunung Fuji yang kita idam-idamkan (lebay). Tiba di Hakone-Machi-ko kemudian dilanjut naik bus balik ke Odawara Station. Kemudian balik ke Shinjuku Station. Semua biaya transport tersebut tercover oleh Hakone free pass. Cara pemakaiannya pun mirip Tokyo Subway pass. Sebenernya cukup rugi saya beli Hakone free pass 2 days cuma dipakai satu hari. Tapi karena itinerary saya cuma 1 hari di Hakone dan pilihan passnya cuma ada untuk 2 dan 3 hari, jadilah saya ambil pass tersebut.



Pemandangan dari kereta gantung


Kapal untuk menyebrang danau



Bus di Hakone


Sampai di Shinjuku kepala saya sangat pusing dan lelah. Mungkin karena faktor makannya sedikit seharian ini dan semalam di bandara tak tidur, jadi diputuskan untuk langsung balik ke penginapan untuk istirahat. Sebelum ke penginapan, istri saya dengan sigap membeli makan di Mcd dan KFC, dan ternyata tidak menyediakan nasi, sodara-sodara. Yasudah kemudian beli makan di minimarket. Oiya, jika pemirsa bingung makan apa, dan malas untuk makan di restoran, saya sarankan beli di minimarket. Seperti Lawson, Sevel, maupun family mart. Karena di sana makanan yang mengandung nasi cukup banyak terutama bagi penikmat nasi seperti saya dan orang Indonesia pada umumnya. Kalau belum pakai nasi berasa belum makan. Haha.  


Jalan-Jalan ke Jepang



Pengalaman mengurus Visa Jepang

Setelah rencana ditetapkan yaitu pergi ke Jepang, kini saatnya mempersiapkan segala sesuatunya termasuk visa. Jenis visanya adalah Visa kunjungan sementara untuk tujuan wisata dengan biaya sendiri. Mengurus visa harus sesuai domisili di KTP. Dan karena KTP saya Jogja maka saya harus mengurusnya ke Jakarta. Untuk pembagian regional domisili bisa dilihat di sini.

Berkas-berkas yang saya persiapkan adalah (atau cek di web japan embassy): 
  1. Paspor.
  2. Formulir permohonan visa. [download (PDF)] dan Pasfoto terbaru (ukuran 4,5 X 4,5 cm, diambil 6 bulan terakhir dan tanpa latar, bukan hasil editing, dan jelas/tidak buram)
  3. Foto kopi KTP (Surat Keterangan Domisili)
  4. Fotokopi Kartu Mahasiswa atau Surat Keterangan Belajar (hanya bila masih mahasiswa)
  5. Bukti pemesanan tiket (dokumen yang dapat membuktikan tanggal masuk-keluar Jepang)
  6. Jadwal Perjalanan [ download (DOC)] (semua kegiatan sejak masuk hingga keluar Jepang 
     contoh jadwal perjalanan
  7. Fotokopi dokumen yang bisa menunjukkan hubungan dengan pemohon, seperti kartu keluarga, akta lahir, dlsb. (Bila pemohon lebih dari satu)
  8. Dokumen yang berkenaan dengan biaya perjalanan:
    Bila pihak Pemohon yang bertanggung jawab atas biaya
    * Fotokopi bukti keuangan, seperti rekening Koran atau buku tabungan 3 bulan terakhir (bila penanggung jawab biaya bukan pemohon seperti ayah/ibu, maka harus melampirkan dokumen yang dapat membuktikan hubungan dengan penanggung jawab biaya).

Selain syarat-syarat di atas,saya juga menyiapkan surat keterangan kerja dari kantor dalam bahasa inggris. 

Setelah semua berkas siap, pada tanggal 5 September 2017 saya menuju ke Duta Besar Jepang di dekat Bundaran HI, Jakarta. Tiba di lokasi sekitar pukul 10.00. Rame banget ternyata. Penuh, sampe gak cukup ruangannya. Saya dapat nomer antrian 221, padahal nomer yang dipanggil baru mencapai 95. Setelah 1 jam menunggu, akhirnya nomer saya dipanggil, dan gak sampe 3 menit sudah kelar. Dan diberitahukan untuk datang kembali tanggal 8 September 2017 untuk ambil passpor yang sudah diberi visa. Kalau keterangan di suratnya sih 4 hari kerja baru jadi, tapi kalau dihitung dari tanggal 5 menuju 8 harusnya kan cuma 3 hari. Kemungkinan maksudnya tanggal 5nya tetap dihitung 1 hari.
Karena tanggal 8 saya berhalangan, akhirnya saya minta bantuan teman untuk ambilkan. Jadi ambil paspor ini bisa diwakilkan asal pengambil sudah bawa kuitansinya. Dan sangat disarankan untuk membawa uang cash. Pasporpun sudah di tangan teman saya, sayapun senang. Jepaaaang here we come.... !!

Btw, saya sudah cek di web embassy japan, sepertinya tempat pengajuan dan pengambilan visa sudah berubah, Mulai 15 September 2017, proses pengajuan maupun pengambilan visa dilakukan di Japan Visa Application Center (JVAC) yang terletak di Lotte Shopping Avenue lantai 4 (samping Studio XXI). 
Untuk persyaratan dan lainnya, silahkan membaca website JVAC berikut: 

Jalan-jalan ke Jepang (+Tips)

Kenapa bisa sampai ke Jepang ya? Hehehe awal mula sih karena saya sedang mempersiapkan pernikahan, dan terlintas di benak kenapa gak sekalian mempersiapkan honeymoon juga. Yaudah langsung deh musyawarah sama calon istri buat nentuin tujuan honeymoon. Awal-awal bingung mau kemana, pilihan jatuh ke Maldives alias Maladewa. Tapi setelah menimbang dengan teliti dan cermat akhirnya pilihan jatuh buat pergi ke Jepang aja. Walaupun alasan utama masalah budget sih, wkwkw.. Selain itu karena maldives ‘cuma’ menyediakan pemandangan pantai dan laut, dimana saya dan calon istri sudah cukup biasa dengan pemandangan tersebut. Saya ada di Papua, dan calon istri ada di Sulawesi, sudah terbiasa melihat pantai-pantai yang indah di Papua dan Sulawesi yang gak kalah sama maldives. Sepakat kita akhirnya ke Jepang.
Persiapan awal tentu browsing di internet, apa saja syarat dan bagaimana menjalani hidup di sana. Btw, kita jalan cuma berdua gak pake guide, oleh karena itu persiapan harus benar-benar matang. Setelah itu tentu saja harus bikin visa. 


Beberapa saran dan tips yang diperlukan :
-sewa wifi portable 
Internet merupakan kebutuhan yang sangat utama, oleh karena itu saya sarankan teman-teman untuk menyewa portable wifi. Bisa sewa di Indonesia atau sewa di Jepang. Sebenernya sudah banyak wifi gratis yang disediakan oleh pemerintah Jepang, seperti di Bandara, stasiun, tempat umum, dll. Tapi tentu agar lebih aman kita bawa wifi sendiri.
Saya ada pengalaman yang kurang mengenakkan terkait sewa portable wifi ini. Jadi saya sudah order sewa portable wifi di treepmore. Sudah bayar DPnya juga via transfer. H-1 keberangkatan, kita pergi ambil pocket wifi di kantor treepmore di daerah Kemang, Jakarta Selatan. Dan eng ing eng, kantornya gak ada pemirsa, lenyap. Setelah tanya orang sekitar katanya kantor treepmore sudah pindah dari 1 bulan yang lalu. Masalahnya kalau pindah kenapa di web sama profil IG masih mencantumkan alamat kantor yang lama, gak ada alamat barunya. Saya coba telpon gak bisa, DM IG gak dibales, chat line juga gak dibales. Gila nih. Kayaknya ketipu kita. Yaudah pasrah aja lah, diurus besok aja kalau udah balik dari Jepang.  Akhirnya kita cari penyewaan wifi di tempat lain, pilihan jatuh ke wi2fly, dan syukurlah bisa disewa saat itu juga walaupun harganya lebih mahal dibanding jika sudah pesan jauh-jauh hari. Kita langsung meluncur menuju ke kantor wi2fly.

-google map (cari transport, subway, kereta, dll)
Aplikasi satu ini sangat-sangat penting, dan berjasa bagi kelancaran perjalanan saya. Mulai dari cari lokasi hingga menentukan pilihan dan urutan transport. Memudahkan kita jika bingung harus naik apa, transit dimana, pindah line apa, jam berapa, dsb. Pokoknya jadwal subway, kereta, beberapa bus, sudah terkoneksi ke dalam google map.

Bagi teman-teman khususnya yang muslim, yang pengen cari makanan halal di Jepang bisa pakai aplikasi ini. Aplikasi ini bisa didownload di playstore. Cara mencarinyapun mudah, sudah dilengkapi dengan map. Dan banyak juga warung makan Indonesia. Jadi kalau teman-teman kangen dengan makanan Indonesia, bisa juga pakai aplikasi ini.

-Ambil duit di Sevel (Seven eleven)
Bagi teman-teman yang bingung buat ambil duit dimana, teman-teman bisa gunakan atm yang ada di Sevel ataupun ATM dengan logo Seven Bank. Entah kenapa Cuma ATM ini yang bisa saya pakai, yang lainnya gak bisa. Saya pakai kartu Mandiri dan BRI.

-Ambil city map/tourist map di stasiun2
Jepang merupakan negara yang sangat bersahabat dengan turis, informasi wisatanyapun lengkap. Jadi teman-teman bisa ambil peta (berbentuk kaya brosur) yang di sediakan di stasiun-stasiun tempat wisata, travel agent, information centre, counter ticket, dsb. Dijamin bakal memudahkan teman-teman dalam berkeliling.

Teman-teman dengan budget minim yang bingung harus nginap dimana, bisa gunain airbnb. Jadi aribnb ini sistemnya bukan seperti hotel. Tetapi ada pemilik (host) yang menyewakan tempatnya buat kita tinggali. Bisa berbentuk rumah, apartemen, kondo, losmen, hostel, dll. Pilihan fasilitasnyapun macam-macam dengan range harga yang bervariasi. Mau yang private room maupun yang shared room juga ada. Jadi tinggal pilih aja sesuai kebutuhan.

-Universal adapter
Karena colokan di Jepang berbeda sama di Indonesia, jadi disarankan untuk bawa barang ini. Carinyapun mudah di toko-toko elektronik. Kalau kita gak bawa ini bakal bingung buat charge hape, laptop, kamera, dan peralatan elektronik lainnya.

- cari tau kartu pass yang bermanfaat dan sebaiknya digunakan
Bepergian di Jepang tidak sekedar bayar tiket kereta lalu jalan. Tidak. Banyak pilihan paket yang ditawarkan. Banyak kartu pass dengan berbagai variasi. Kalau kita menggunakan kartu pass yang sesuai, biaya transport kita bisa lebih murah daripada jika kita beli tiket secara ngeteng. Jadi sebaiknya teman-teman sesuaikan dengan itinerarinya serta harga pass tersebut ya...
Berikut beberapa pass yang saya pakai selama di Jepang :
 1. Tokyo Metro Subway pass (3 days)
 2. Hakone free pass (2 days)
 3. Bus day pass Kyoto (1 days)
 4. Kansai Thru pass (3 days)


Untuk cerita perjalanan di Jepang selengkapnya bisa disimak di sini :



Mohon maaf kalau ceritanya gak jelas, bahasanya juga membingungkan, maklum gak bisa merangkai kata dengan baik. Harap maklum juga kalau banyak nama-nama tempat yang saya lupa, karena nulis ini cuma modal ingatan. Hehehehe

Budget yang yang harus dikeluarkan tiap orang selama 7 hari di Jepang dan 2 hari transit di Bandara KL sekitar 14 juta. Budget ini membengkak di bagian makan dan jajan, karena kita makannya bener-bener gak terkontrol, pengen nyobain semua.. hahaha. Ni rinciannya, semoga membantu.


Jumat, 26 Februari 2016

El Nino

Sekali-sekali sharing ilmu lah. Kali ini saya ingin membahas mengenai salah satu fenomena cuaca yaitu El Nino. Monggo disimak sembari makan kacang. :)

    EL  NINO
El Nino menurut sejarahnya adalah sebuah fenomena yang teramati oleh para penduduk atau nelayan Peru dan Ekuador yang tinggal di pantai sekitar Samudra Pasifik bagian timur menjelang hari Natal (Desember). Fenomena yang teramati adalah meningkatnya suhu muka laut yang biasanya dingin. El Nino adalah fenomena memanasnya suhu muka laut di Samudera Pasifik ekuator (khususnya bagian tengah dan timur) dari keadaan normal [NOAA, 2005]. Fenomena ini mengakibatkan terjadinya konveksi di atmosfer di atasnya. Sehingga curah hujan di wilayah tersebut akan meningkat dan berpengaruh terhadap daerah – daerah di sekitarnya termasuk Indonesia. El Nino merupakan fenomena lautan-atmosfer skala global [Philander,1990]. Kondisi demikian terjadi secara berulang dalam setiap periode 3-8 tahun dan biasanya berkaitan dengan indeks osilasi selatan yang bernilai negatif.

    LA  NINA
La Nina adalah fenomena alam yang berskala global dan mempunyai siklus yang tidak reguler. Dampak yang kita rasakan adalah terjadinya bencana banjir dan meningkatnya intensitas curah hujan pada saat episode La Nina [Sulistya.dkk., 1998]. La Nina merupakan kebalikan dari El Nino. La Nina menurut bahasa penduduk lokal berarti bayi perempuan. Peristiwa itu dimulai ketika El Nino mulai melemah, dan air laut yang panas di pantai Peru – Ekuador kembali bergerak ke arah barat, air laut di tempat itu suhunya kembali seperti semula (dingin), dan upwelling muncul kembali, atau kondisi cuaca menjadi normal kembali. Perjalanan air laut yang panas ke arah barat tersebut akhirnya akan sampai ke wilayah Indonesia. Akibatnya, wilayah Indonesia akan berubah menjadi daerah bertekanan rendah (minimum) dan semua angin di sekitar Samudra Pasifik bagian selatan dan Samudra Hindia akan bergerak menuju Indonesia. Angin tersebut banyak membawa uap air sehingga sering terjadi hujan lebat.
Selama periode La Nina, angin pasat menjadi lebih kuat dari biasanya oleh peningkatan gradien tekanan antara Samudra Pasifik bagian barat dan timur. Hasilnya, upwelling pun menjadi lebih kuat di sepanjang pantai Amerika Selatan dengan suhu muka laut yang lebih dingin dari biasanya di wilayah Samudra Pasifik bagian timur, dan suhu muka laut yang lebih hangat dari biasanya di Samudera Pasifik bagian barat [Zakir, A dkk., 2009].

  PERBANDINGAN KONDISI NORMAL, EL NINO, DAN LA  NINA



Gambar 1. Sirkulasi Timur Barat pada Kondisi Normal dan Saat El Nino
(sumber : http://www.bom.gov.au)

Pada kondisi normal, suhu muka laut di perairan Indonesia cukup hangat, sehingga mengakibatkan naiknya massa udara. Sirkulasi umum yang terjadi adalah adanya angin pasat timuran yang bergerak menuju wilayah Indonesia, dimana massa udara dari Pasifik bagian timur bergerak menuju wilayah Indonesia dan menjadikan wilayah Indonesia sebagai daerah konvergensi.
Pada kondisi El Nino, suhu muka laut di Pasifik ekuator timur menjadi lebih panas dari pada kondisi normalnya. Hal ini mengakibatkan konveksi banyak terjadi di daerah tersebut yang menyebabkan curah hujan meningkat. Banyaknya konveksi menyebabkan massa udara berkumpul ke wilayah Pasifik ekuator timur, termasuk massa udara dari Indonesia sehingga wilayah Indonesia curah hujannya berkurang dan di beberapa wilayah mengalami kekeringan.




Gambar 2. Sirkulasi Timur Barat pada Kondisi Normal dan Saat La Nina
 (sumber : http://www.bom.gov.au)


Pada saat kondisi La Nina, suhu muka laut di Pasifik ekuator timur lebih rendah dari pada kondisi normalnya. Sedangkan suhu muka laut di wilayah Indonesia menjadi lebih hangat. Sehingga terjadi banyak konveksi dan mengakibatkan massa udara berkumpul di wilayah Indonesia, termasuk massa udara dari Pasifik ekuator timur. Hal tersebut menunjang pembentukan awan dan hujan. Sehingga fenomena La Nina ditandai dengan terjadinya hujan deras dan angin kencang di wilayah Indonesia terutama Indonesia bagian timur. Dapat dikatakan sirkulasi saat kejadian La Nina ini sama seperti sirkulasi saat normal hanya saja angin pasat timur menjadi lebih kuat dari biasanya yang mengakibatkan konvergensi lebih kuat dan menghasilkan hujan yang lebih besar dari biasanya.

Glosarry :
1. Upwelling     = Aliran pada air laut dimana dari dasar menuju permukaan.
2. Konvergensi = Daerah pertemuan (berkumpulnya) angin, massa udara 
                              bergerak naik
3. Konveksi       = Pengangkatan massa udara ke atmosfer akibat pemanasan 
                              (sinar matahari)

Baik konvergensi maupun konveksi menyebabkan tingginya pertumbuhan awan yang memicu curah hujan meningkat.

Rabu, 17 Februari 2016

IBU

Sudah hampir 2 tahun semenjak post terakhir. Sudah banyak terjadi fluktuasi serta perubahan - perubahan dalam kehidupan. 
Post kali ini saya dedikasikan untuk ibu saya karena saya sedang rindu kepada beliau. 
Sebuah cerita ringan tentang bagaimana seorang ibu terhadap anaknya. 

Saya sedang merantau untuk kuliah, ayah saya dinas di luar kota. Praktis hanya ada ibu dan kedua adik saya saja di rumah. Waktu itu hujan deras dan adik saya yang paling kecil sakit yang cukup parah dimana harus segera dibawa ke rumah sakit. Adik saya yang pertama sedang sekolah. Ibu panik tentu saja. Bagaimana mengantar adik saya ke rumah sakit saat hujan deras begini. Sebenarnya di rumah ada mobil, tapi jangan bayangkan mobil-mobil mewah jaman sekarang yang power steering. Mobil kami adalah Carry 1.0. Sebuah mobil murah yang biasa digunakan untuk angkot. dan mengendarainya perlu keahlian khusus. Susah dan tak nyaman tentu saja. Dan fakta bahwa ibu saya belum terlalu mahir bawa mobil, hanya pernah latihan 1-2 kali saja, itu pun dalam pengawasan dan belum jalan di jalanan umum. Hal ini tentu saja menjadi acuan bahwa membawa mobil sendiri bukanlah pilihan yang bijak. Tapi karena begitu sayang dengan anaknya, ibu saya nekat membawa adik saya menggunakan mobil, sendiri, di jalanan umum, mobil kurang nyaman, tidak ada SIM, dengan jarak tempuh yang cukup jauh, dan saat itu hujan begitu deras. Jujur, kalau saya berada di posisi seperti ibu saya, mungkin saya tidak senekat itu. Alhamdulillah, sampai di rumah sakit dengan selamat, pulang juga selamat, dan adik saya segera sembuh.

End of story, seorang ibu pasti akan melakukan apapun demi anaknya. Oleh karena itu, doakan ibumu dan patuhi segala perintahnya (kalau ini saya juga sedang berusaha :D). Tapi yang bikin dilema adalah ketika ibu membuat instagram dan merequest untuk memfollow saya. Bingung mau diterima atau gak :p.

Tambahan : Semenjak kejadian itu, ibu mulai sering bawa mobil dan akhirnya malah lebih jago dari pada saya maupun ayah saya. Lintas propinsi pun sering dijabanin. :)