Halaman

Minggu, 01 Juni 2014

JKT48 from my perspective

Awalnya saya terlebih dahulu mengenal AKB48, walau tidak terlalu banyak tahu. Karena saya belum pernah sama sekali melihat video perform maupun klip mereka, hanya sebatas mendengar nama mereka. Saya pun hanya tertarik 3 lagu mereka (setelah mendapat rekomendasi dari teman saya yang anak metal dan dia tahu bagaimana selera saya, haha), yaitu : Sanjou, Korogaru ishi ni nare, dan suifu wa arashi ni yume wo miru. Karena lagu tersebut menurut saya ‘Metal’ banget. Mungkin sedikit ditambah sentuhan distorsi sudah jadi lagu metal. Di sini lah saya mulai respect dengan grup ini. Dalam hati bergumam, hmm.. ini grup tidak sama dengan boyband / girlband kebanyakan, untuk masalah musik dan lagunya, karena jujur saya tidak pernah benar-benar memperhatikan penampilan mereka, hanya modal mp3 hasil downloadan. Kemudian terdengarlah gaung JKT48. Saya pun menarik kesimpulan JKT48 sama seperti AKB48, hanya beda di bahasa lirik lagu saja.

Setelah JKT48 sering tampil di tv, anggapan awal saya adalah sekelompok anak-anak remaja putri yang menari dan menyanyi (walaupun lipsync) dengan penuh semangat dan memakai pakaian yang (maaf) memperlihatkan paha mereka. Menurut saya memang terlihat kurang etis bagaimana ‘seragam’ mereka. Bukan berarti saya munafik, karena kalau boleh jujur, laki-laki mana yang tidak suka dengan pemandangan seperti itu. Hanya saja untuk masalah etika di masyarakat kog agaknya kurang pas apalagi jika dikaitkan dengan agama, akan tambah runyam masalahnya #nosara. Namun saya tidak ingin mengkritisi cara berpakaian mereka karena itu hak masing-masing individu atau mungkin mereka sebenernya hanya ‘diharuskan’ memakai itu oleh manajemen mereka. Mungkin di sinilah banyak perdebatan, para haters pasti menyudutkan JKT48 hanya jual paha dan tampang, sementara  para fans membela dengan menganggap pakaian seperti itu sudah sering ditemui di kota-kota besar, di mall, di kafe, di jalan, dsb jadi sudah dianggap wajar. Well memang benar, tapi namanya public figure atau mungkin idola yang sering muncul di tv pastilah banyak orang yang melihat dan menilai yang menuai banyak tanggapan dan kontroversi. Masalah kedua yang sering memicu perdebatan adalah Lipsync, ya penampilan JKT48 di konser-konser kebanyakan Lipsync, jarang sekali minus one kecuali saat theater (menurut info yang saya baca, maklum belum pernah ke theater). Yap kalau saya boleh bilang, lipsync sangat mengurangi nilai dari sebuah penampilan dan saya sangat membencinya. Namun setelah baca sana-sini dan argument para fans JKT48 mengenai mengapa JKT48 melakukan lipsync, saya pun bisa memakluminya. Masalah terakhir yang sering menuai kritikan adalah fansnya, beberapa haters bahkan menyebutnya sebagai wotalay. Memang kadang fans JKT48 sedikit berlebihan tapi saya angkat topi dan begitu salut bagaimana mereka sangat loyal, kompak, dan keren saat chanting serta mengayunkan lightstick. Membuat saya merinding saking kerennya, mungkin hal ini seperti yang saya rasakan ketika nonton konser metal dan nonton bola dengan supporter fanatik.

Petaka itu muncul ketika salah satu teman saya mengirimkan suatu link di DM twitter saya. Karena saya makhluk selo dan sedikit penasaran, sayapun membuka dan mendownloadnya. Ternyata itu adalah video DVD konser pekenalkan nama kami JKT48. Mau tak mau saya coba menontonnya dengan khidmat. Kelar nonton, kesan saya beragam, mulai dari keren, mantab, enerjik, cantik, imut, menambah semangat, dll. Semenjak itu saya pun menjadi tertarik dengan grup ini dan berusaha menggali lebih dalam lagi mengenai JKT48 dan 48 Group. Hanya dalam waktu sebulan koleksi video saya sudah mencapai 21GB dari jerih payah mendownload. Mulai dari video konser, video klip, variety show, behind the scene, interview, berita-berita, bahkan video-video ringan hasil fancam. Sayapun sering browsing di berbagai web, blog, maupun forum mengenai JKT48 dan 48 family lainnya. Sayapun terkesima dengan konsep grup idola ini, bagaimana cara mereka melayani fansnya, bagaimana marketingnya, bagaimana shownya, audisinya, anggotanya, dll. Semua itu hal yang baru di Indonesia. Bagaimana sebuah grup dibentuk dengan menjual proses bukan hasil. Dan menurut saya sang total produser Akimoto-san adalah orang yang jenius. Semenjak itu saya tak henti-hentinya melihat video JKT48 dan selalu haus akan video-video terbaru lainnya. Musik yang begitu ciamik dengan suara riff gitar yang gahar diselingi melodi yang skillfull, penampilan member yang cantik dan enerjik dengan koreografi yang rumit, lirik yang mungkin sedikit aneh ketika ditransalasi ke bahasa Indonesia namun mengandung pesan yang baik, penonton yang kompak dengan chantmix dan lightstick, dan konsep grup ini pada umumnya menjadikan saya menyukai grup idola ini. Saya menyukai JKT48 hanya sebatas musik dan perform mereka di atas pentas, syukur-syukur bisa nonton konser / theater mereka, kalau bisa saya juga akan membeli CD original (maklum saya jauh dari peradaban) namun tidak terlalu tertarik untuk mengikuti handshake event, memberi gift pada member, atau caper berlebihan ke member. Mungkin bisa dibilang saya fans abal-abal ya, haha. Banyak orang memang masih skeptis dengan grup ini, mereka menganggap para fans JKT48 itu cuma nafsu belaka untuk melihat member, pedofil, alay, annoying, kurang kerjaan, dan tanggapan miring lainnya. Well tiap orang punya pendapat masing-masing, tapi ibarat pepatah ‘Tak kenal maka tak sayang, you don’t even know if you’re not one of them’

Saya sempat berpikir apakah jiwa metal saya telah sirna? Namun ternyata tidak juga, saya masih menikmati lagu-lagu metal. Ternyata bukan saya saja yang terjebak di kondisi undescribable seperti ini, banyak anak metal lain yang juga menyukai JKT48. Contoh terdekat ya teman saya yang merekomendasikan lagu AKB48 yang saya sebutkan di awal tadi. Haha. Dan ternyata ex gitaris Megadeth (Band Metal yang merupakan The big four Thrash Metal bersama Metallica, Anthrax, dan Slayer) Marty Friedman pun mengcover lagu-lagu AKB48 seperti Heavy Rotation dan Aitakatta. Well mengutip salah satu komen di youtube ‘Heavy Metal or Heavy Rotation? Why not both.’

Kamis, 12 Desember 2013

Biak, some place where I belong right now.


Apa yang terlintas di  benak anda ketika mendengar kata Biak? Sedikit saya beri clue, itu adalah nama daerah di Indonesia. Yap sebagian orang pasti mengetahuinya atau paling tidak pernah mendengarnya. Tapi saya jamin mungkin 80% lebih WNI tidak tahu dimana letak Biak.

Biak merupakan sebuah Kabupaten di Propinsi Papua, Kabupaten Biak terdiri dari satu pulau besar yang bernama Pulau Biak dan pulau kecil di sekitarnya. Untuk lebih jelasnya silakan Liat peta di bawah ini.


Apa istimewanya daerah ini bagi kehidupan saya? 

Saya berasal dari sebuah wilayah dengan keistimewaan yang sudah melekat dari dulu kala, bukan hanya karena kondisinya tapi memang statusnya yang merupakan Daerah Istimewa, Yogyakarta. Saya tinggal di Kabupaten Sleman, tak begitu jauh dengan pusat Kota Yogyakarta. Kemudian melanjutkan menuntut ilmu di ibukota, Jakarta. Setelah itu saya pun terjun ke dunia kerja, yang karena merupakan ikatan dinas jadi saya mau tak mau harus siap ditempatkan dimana saja di seluruh wilayah NKRI. Takdirpun menggariskan bahwa saya harus merantau ke Biak. 

Biak, sebuah daerah yang jauh dari hingar bingar, keramaian, maupun keruwetan kota-kota besar. Sepi, bahkan terlampau sepi. Biaya hidup menjulang tinggi. Dan karena Biak itu pulau sendiri sehingga jika mau ke Jayapura (ibukota Provinsi Papua) harus naik pesawat atau naik kapal selama 20 jam. 

Ada apa saja di Biak? Mal? Tidak ada. Resto fast food macam KFC, Mcd, PH, dsb? Jangan mimpi. Bioskop? Mimpi anda terlalu berlebihan. 

Jadi ada apa di Biak (yang bisa dibanggakan)? Alam.

Tipikal daerah-daerah yang belum berkembang dari sisi pembangunan infrastrukturnya adalah kondisi alamnya yang masih alami dan menakjubkan. Apalagi pulau seperti ini, pantai indahnya bakal sulit dihitung dengan jari. Beberapa waktu lalu saya sempat menjelajah Pulau Biak. Lumayan untuk refreshing dan menghilangkan kebosanan. Yang pasti kondisi alamnya tak kalah dengan tempat-tempat wisata alam yang sudah terkenal. Come, visit Biak.   

 












Biak, The Paradise of Papua

Senin, 02 Desember 2013

Perjalanan Jogja - Lombok, Mengunjungi Megahnya Gunung Rinjani

Suntuk, bosan, penat, mungkin masalah klasik bagi tiap orang yang selalu diliputi rutinitas –rutinitas monoton. Hal itu juga yang saya rasakan kala itu. Kuliah yang mungkin sudah ‘sedikit santai’ namun dipusingkan dengan tugas akhir. Dan saya pun berpikir, setelah melewati kepusingan ini waktu saya tidak lama lagi. Maksudnya setelah itu saya lulus dan kembali ke tempat pengabdian di ujung timur wilayah Indonesia, Papua. Jadi waktu saya untuk menikmati Pulau Jawa dan sekitarnya tidak akan lama lagi. Rencana jangka pendekpun tercipta, saya harus jalan-jalan. Dan jalan-jalan yang saya maksud adalah naik gunung. Di Indonesia ini ada 3 gunung yang menjadi impian saya, Semeru, Rinjani, dan Kerinci. Karena saya sudah mengunjungi Semeru tahun lalu, maka pilihan jatuh di antara Rinjani atau Kerinci. Gayungpun bersambut, teman-teman saya mengajak untuk naik Gunung Rinjani. Okelah, tak perlu pikir panjang, saya langsung mengiyakan ajakan tersebut, meski rencana tersebut masih sebatas wacana.  FYI, Rinjani adalah Gunung api tertinggi kedua di Indonesia dengan ketinggian 3726 mdpl dan terletak di Pulau Lombok, NTB.

Seiring berjalannya waktu, kamipun semakin memantabkan diri untuk mendaki Rinjani. Segalanya kami persiapkan, mulai dari rundown pendakian, dana, peralatan, transportasi, dll. Saat itu kami masih belum fix kapan waktu yang akan digunakan. Saya pun dipusingkan dengan ketidak jelasan agenda dari kampus. Takutnya rencana pendakian ini berbenturan dengan acara kampus. Disamping itu saya memiliki agenda lain, yaitu nonton konser Metallica (seperti yang saya ceritakan sebelumnya) dan itu butuh biaya yang tidak sedikit. Sayapun jadi bingung kalau memenuhi kedua agenda saya ini karena dua-duanya butuh biaya besar. Saya pun berpikir sejenak dan sedikit galau. Akhirnya saya putuskan keduanya tetap harus terlaksana bagaimanapun caranya karena pengalaman itu sangat berharga.

Yap, akhirnya tanggal 2 September 2013 kami berangkat dari Yogyakarta untuk mendaki Rinjani. Personil kami saat itu berjumlah 9 orang (Saya, Angga, Roshid, Irul, Budi, Firman, Simoh, Barqun, dan Demet). Kami naik kereta ekonomi Sri Tanjung (Rp 50.000,-) dari Stasiun Lempuyangan Yogyakarta. Sekitar pukul 8 pagi kereta berangkat menuju Banyuwangi. Namun salah seorang teman kami, Demet, terpaksa harus menyusul naik bus karena tidak kebagian tiket kereta. Di Solo, satu teman kami (Catur) juga ikut bergabung. Jadi total saat itu yang naik kereta berjumlah 9 orang. Di dalam kereta ternyata banyak sekali pendaki-pendaki lain. Perjalanan sangat lama dan cukup membosankan karena saya sudah tidak sabar mendaki Rinjani. Kira-kira jam 20.45 WIB, kereta sudah sampai di Banyuwangi. Kemudian kami berjalan keluar menuju pelabuhan Ketapang yang jaraknya tidak terlalu jauh dari stasiun. Namun sebelum meneruskan perjalanan kami istirahat sembari mengisi perut. Pukul 22.30 WIB kami naik kapal fery dari Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi menuju Pelabuhan Gilimanuk, Bali. Waktu tempuh kira-kira 1-2 jam. 


3 September 2013
Tiba di Pelabuhan Gilimanuk waktu sudah menunjukkan pukul 01.30 WITA. Teman saya yang lain langsung mencari angkutan menuju Pelabuhan Padang Bai. Sementara saya dan seorang teman saya (Angga) masih menunggu di Pelabuhan Gilimanuk menanti Demet yang belum sampai. Cukup lama saya dan Angga menanti, kira-kira pukul 04.00 WITA, Demet akhirnya muncul juga. Setelah Sholat Shubuh sebentar kami bertiga langsung mencari angkutan. Namun karena pada saat itu angkutan yang langsung menuju Pelabuhan Padang Bai sudah tidak ada maka kami terpaksa menuju Terminal Ubung terlebih dahulu.

Sampai di Terminal Ubung sekitar pukul 09.00 WITA. Kemudian kami lanjut dengan mencharter angkot menuju Pelabuhan Padang Bai, dan sampai di sana sekitar pukul 11 siang dan kami pun berkumpul kembali ber10. Setelah beres-beres, mandi, sholat, dan makan, kamipun beranjak naik kapal menuju Pelabuhan Lembar, Lombok. Kira2 5-6 jam kami di atas kapal, dan ketika sampai di Pelabuhan Lembar, waktu telah menunjukkan pukul 19.30 WITA. 

Kemudian kami mencharter 2 mobil untuk mengantarkan kami menuju Aikmel. Setelah sampai di Aikmel, sedikit terjadi miskomunikasi dengan sopir yang akan membawa kami ke basecamp Sembalun. Akibatnya perjalanan agak tertunda, setelah bernegosiasi akhirnya kami berangkat juga menuju Sembalun menggunakan truck. 


Hawa dingin begitu menyayat kulit kala itu, terpaksa kami meringkuk kedinginan di atas bak truck. Hingga akhirnya tengah malam kami sampai di basecamp pendakian Gunung Rinjani, Sembalun. Di dalam suatu bangunan semacam pos pelaporan, beberapa pendaki sudah tertidur terbungkus sleeping bag. Kamipun tak mau kelamaan, dan segera mencari posisi, badan sudah lelah dan kamipun segera beristirahat.

4 September 2013
Pagi-pagi kami bangun, beres-beres, bersih-bersih, dan re-packing.  Setelah itu kami naik pick up menuju titik awal pendakian. Sekitar pukul 10 pagi dimulailah langkah awal kami mendaki gagahnya Rinjani. Trek yang terbilang masih landai, dengan menyusuri bukit-bukit kecil kami lalui dengan cukup lancar. Pemandangan terhampar dengan indah. Mirip daerah di New Zealand, dimana bukit-bukit kecil disertai rumput dan ilalang yang terhampar luas, hijau, dan menyejukkan mata, meski kala itu panas terik mendera. Sapi-Sapi gembala pun turut mewarnai perjalanan kami. Salah satu keunikan mendaki Rinjani adalah begitu banyaknya Bule yang kami temui, mungkin Rinjani telah menjadi primadona di kalangan wisatawan mancanegara. 

Panas yang begitu menyengat cukup menguras energi saya. Sesekali kami beristirahat dan melepas lelah. Jam 4 sore kami telah sampai di pos 3. Di sini kami berencana menginap semalam dan melanjutkan perjalanan esok hari. Di pos 3 ini banyak pendaki lain yang juga ngecamp, kami saling berbincang dan berbagi makanan, begitu hangat dan menyenangkan. Malam semakin larut, kamipun akhirnya terlelap.
 



5 September 2013
Setelah puas beristirahat, setelah rasa lelah cukup terobati, kamipun siap-siap untuk melanjutkan perjalanan dengan tentu saja sarapan terlebih dahulu. Perjalanan kali ini melewati trek yang lebih terjal dari kemarin. Hal ini cukup menyulitkan kami dalam memanage waktu perjalanan. Beberapa teman kami sudah jalan jauh di depan, sementara saya dan beberapa teman yang lainnya berada di belakang. Sekitar 6 jam, kamipun akhirnya sampai di lokasi camp berikutnya, yaitu Plawangan Sembalun. Waktu itu jam sudah menunjukkan pukul 16.30 . Kamipun mendirikan tenda, masak, dan melepas lelah. Di sini kami harus mewaspadai monyet-monyet liar, bagaimana tidak, monyet-monyet itu selalu mencuri makanan jika kita kurang sigap.  Kamipun akhirnya tidur untuk bersiap-siap summit attack besok dini hari.
 
6 September 2013
Pukul 01.30 kami bangun, sedikit merapikan tenda, dan mempersiapkan segala kebutuhan summit attack. Kami hanya membawa tas kecil dengan barang seperlunya, sementara tenda dan carrier kami tinggal. Tentu saja tenda ditutup rapat-rapat supaya makanan yang ada tidak dicuri oleh monyet. Sejenak berdoa, kamipun telah siap untuk melanjutkan perjalanan kembali. Hawa dingin sangat menusuk. Untung saja saya memakai celana panjang, sepatu, dan sarung tangan (belajar dari pendakian Semeru yang lalu .red). Trek terjal dan sedikit memutar mewarnai perjalanan awal kami untuk menuju puncak. Kemudian saya melewati trek berpasir, mirip Semeru. Sangat menguras tenaga. Meski puncak terlihat tidak begitu jauh, namun entah mengapa tak sampai-sampai juga. Belum mencapai puncak, namun matahari sudah akan muncul, dan ya benar saja saya tidak dapat menikmati sunrise di puncak, tapi tak mengapa, meski demikian, keindahan sunrise dari ketinggian tetap tidak ada tandingannya. Udara kala itu sangat-sangat dingin, untung saja tidak berkabut sehingga tidak memperparah keadaan.  Hampir 6 jam saya habiskan untuk mendaki puncak Rinjani, sangat melelahkan, dan sangat dingin. 

Akhirnya saya berhasil mencapai puncak sekitar pukul 8 pagi, saya tak terlalu ingat pastinya. Perasaan pertama yang muncul adalah rasa syukur. Saya benar-benar bersyukur telah mencapai puncak, kemudian dilanjut rasa bahagia dan terharu. Di puncak angin begitu kencang namun cuaca sangat cerah memanjakan kami dalam berfoto. Pemandangan begitu indah. Di bawah sana terlihat Danau Segara Anak, besar, garang, dan mengagumkan. Di bagian lain terdapat lautan awan, yang begitu memanjakan mata. Sayang, dua orang teman kami tidak dapat mencapai puncak sehingga tidak dapat ikut menikmati pemandangan ini. 
 

 
 

 
Puas menikmati puncak dan bernarsis ria, kamipun turun. Sepanjang perjalanan turun dari puncak, saya disuguhi pemandangan Danau Segara Anak yang begitu jelas di sisi kiri saya. Benar-benar indah. Saya segera mempercepat langkah karena matahari begitu terik. Dan sayapun akhirnya sampai kembali di tenda. Di sana terdapat banyak sekali monyet yang mengelilingi tenda-tenda para pendaki yang selalu siap untuk menerkam makanan yang dibawa pendaki jika lengah. Oleh karenanya kita harus selalu waspada. Bagaimana tidak, beberapa suplai makanan kami pun tak luput dari serangan para monyet. 

 
 
 

Sembari menikmati makan siang, kamipun sedikit galau mengenai arah perjalanan kami selanjutnya. Hal ini dikarenakan, teman-teman kami dari STAN mendapat panggilan mendadak untuk segera pemberkasan CPNS. Apakah kami harus meneruskan perjalanan menuju Segara anak lalu turun melalui basecamp Senaru ataukah kembali turun melalui basecamp Sembalun. Hal ini dikarenakan jika melalui Segara Anak waktu tempuh lebih lama sehingga ditakutkan tidak sempat untuk mengejar waktu. Akhirnya kami putuskan untuk kembali saja melalui basecamp Sembalun. Meski bayang-bayang keindahan Danau Segara anak yang tidak dapat kami rasakan dari dekat. Tak apalah, lain kali bisa ke sini lagi. Akhirnya kamipun turun kembali menuju basecamp Sembalun.

Dalam Perjalanan menuju basecamp Sembalun, kami sedikit tersesat dikarenakan mencoba jalan yang bukan kami lewati sebelumnya. Akhirnya kami sampai di suatu tempat (saya lupa namanya) yang juga merupakan titik awal pendakian Rinjani namun bukan basecamp Sembalun. Karena waktu telah larut, sekitar pukul 22.00 kami putuskan untuk istirahat di sana. Kami tidur di semacam pondokan milik warga. 

7 September 2013
Pagi hari kami segera mencari angkutan dan meluncur menuju Lombok. Dikarenakan tujuan kami berbeda-beda, ada yang mau jalan-jalan dulu di Lombok, ada yang mau langsung balik lewat Pelabuhan Lembar, adapula yang balik menggunakan pesawat sehingga harus menuju bandara. Sehingga dari pada mencar-mencar, kami sepakat untuk menuju Terminal Mandalika, Lombok terlebih dahulu. Dari basecamp kami naik pick up, sepanjang perjalanan kamipun menjumpai monyet-monyet liar di pinggir jalan. Hingga akhirnya kami harus berganti angkutan. Lupa saya dimana. Di sana kami naik semcam angkot untuk menuju Terminal Mandalika, Lombok. Hal unik namun menegangkan terjadi saat kami akan memasuki terminal. Angkot kami dibajak, ya dibajak oleh calo-calo terminal. Dengan menghardik, mereka bertanya tujuan kami, dan memaksa untuk memenuhi keinginan mereka. Kamipun dibawa menjauhi terminal sembari dipaksa macam-macam. Akhirnya sambil berbisik-bisik, kamipun sepakat untuk menjawab kami sudah dijemput teman di terminal. Dengan sedikit ngotot kamipun memaksa untuk kembali ke terminal. Akhirnya kami kembali ke terminal dan menunggu teman. Tak berapa lama teman kami datang. 

Kamipun dibawa ke rumah teman, atau boleh saya bilang senior saya di kampus (mbak Nisa). Turut serta kawan seangkatan saya (Franky) mendampingi. Di rumah mbak Nisa kami disuguhi makan. Terimakasih sekali, mbak. Teman saya yang STAN (Budi, Roshid, Simoh, Catur) langsung menuju bandara untuk pulang menggunakan pesawat. Barqun dan Irul kembali ke terminal Mandalika untuk naik bus menuju Surabaya. Firman naik taksi menuju Pelabuhan Lembar. Sementara saya, Angga, dan Demet tetap tinggal di Lombok. Saya tinggal di rumah dinas teman saya, Frangki. Kami dibawa jalan-jalan mengelilingi kota Lombok. 

8 September 2013
Kami berempat (saya, Angga, Demet, Franky) kembali menjelajah kota Lombok dan sempat mengunjungi senior kami, mbok Kadek Setyawati dan tak lupa menjejakkan kaki di Pantai Senggigi. Malam itu  saya memutuskan untuk segera menyeberang ke Bali bersama Angga. Sementara Demet masih mau berlama-lama di Lombok. Kamipun diantar ke Pelabuhan Lembar. Kami segera naik ke kapal. 

9 September 2013
Kapal yang saya tumpangi telah bersandar di Pelabuhan Padang Bai, Bali. Kalau tidak salah waktu saat itu pukul 03.00 WITA. Kamipun dijemput oleh teman kami, Putu. Di Bali kami berjalan-jalan. Bahkan bisa dibilang kami telah mengelilingi seluruh Pulau Bali. Besoknya, kami mengunjungi teman kami lagi, yaitu Kadek. Dan akhirnya saya dan Angga memutuskan pulang pada tanggal 11 september 2013 menggunakan pesawat dari Bali menuju Surabaya. Sesampainya di Surabaya, saya dan Angga berpisah. Saya meneruskan perjalanan ke Yogyakarta, sementara Angga ke Sidoarjo.


Begitulah kisah panjang perjalanan saya mengunjungi Lombok, mendaki Rinjani. Meski beberapa tempat tak dapat saya kunjungi, namun saya begitu bahagia masih diberi kesempatan menikmati keindahan, denyut nadi kehidupan sosial, dan pengalaman baru di tempat yang belum pernah saya datangi. Saya sangat berterimakasih sekali kepada teman-teman pendakian saya, teman-teman angkatan saya (Franky, Putu, Kadek), senior-senior saya (mbak Nisa, mbok Kadek), dan berbagai pihak yang telah membantu saya.
Tak ada rasa sesal terasa, justru rasa candu yang membuncah untuk segera menginjakkan kaki kembali di Lombok, di Gunung Rinjani. 
   


Rabu, 06 November 2013

Metallica Live in Jakarta, 25th August 2013

Iseng browsing internet tiba-tiba saya dikejutkan oleh berita yang saya ragu akan keabsahannya. Bagaimana tidak, Metallica Live in Jakarta? it's almost impossible. Saya pun tak terlalu menggubris, sampai pada suatu ketika saya searching internet ternyata tiket konser Metallica sudah dapat dipesan. Is it real?? okelah, daripada banyak fafifu saya langsung cari info sebanyak-banyaknya, mulai dari venue, harga tiket, waktu, dan tempat untuk beli tiket. Setelah saya yakin bahwa konser tersebut fix bakal digelar, sayapun mengajak teman-teman saya untuk menonton. Apalah daya, teman-teman saya tidak ada yang mau, mulai dari alasan bukan selera musiknya, tidak ada duit, tidak ada waktu, malas, dsb. Ya sudah, mungkin saya harus mempersiapkan kemungkinan terburuk, single fighter? am I ready? dan akhirnya saya putuskan bagaimanapun saya harus nonton konser ini karena saya yakin, this is the greatest concert ever in Indonesia.

Berbekal doa, tekad, dan tentu saja uang tabungan, saya pun menyambangi disctarra di Bintaro plaza untuk memesan tiket. Ternyata saat itu sistem online disctarra sedang gangguan. Kecewapun melanda, tapi saya tak patah arang, setelah saya tanya sana sini kemudian saya meluncur menuju distro starcross yang katanya bisa beli tiket di sana. Sampai di sana, yang ternyata tidak jauh dari Bintaro Plaza, saya langsung menuju kasir dan memesan tiket festival B seharga Rp 748.000,- . Tanda bukti sudah di tangan, saya pun pulang dengan sumringah. Kalau tidak salah saat itu masih H-30 hari sebelum acara.

Hari-hari penantian saya lalui dengan harap-harap cemas, takut kalau konser ini batal digelar. Detik-detik penantianpun tak lama lagi. Kala itu H-1 euphoria Metallica sudah sangat terasa, apalagi saya menukar tiket asli dan saya banyak menemui para metalhead lain yang menukar tiket. Tiket asli sudah di tangan, tapi saya masih merasa cemas kalau konser tidak jadi digelar. Karena saya tidak ada teman untuk nonton, sayapun iseng posting di kaskus cari-cari teman untuk bareng-bareng nonton konser metallica. Gayungpun bersambut ternyata banyak metalhead yang single fighter dan mencari barengan. Akhirnya saya janjian dengan 2 anak kaskus untuk berangkat bersama-sama. Kamipun bertemu di Sevel sektor 7 Bintaro.  Dari sinilah pengalaman menakjubkan itu dimulai.

Tepat pukul setengah 3 siang, kami bertiga pun meluncur menuju GBK. Sampai di sana, dua hal yang kami pikirkan adalah, tempat parkir dan makan. Kamipun parkir di Sevel Senayan. Di sana sudah terihat lautan manusia berkaos hitam dan secara massive berkelompok maupun sendirian, bergerak merapat ke GBK. Karena salah seorang teman saya belum menukar tiket alhasil kamipun menemaninya menukar tiket, sambil berjalan berkeliling menanti Gate dibuka. Tepat pukul 5 sore, gate pun dibuka, Para Metalhead langsung menyerbu, berdesak-desakkan. Tapi satu hal yang saya salut adalah mereka TERTIB !! Ya, tertib, Walau muka sangar, tapi gak ada yang saling serobot, bahkan saling membantu. Tak jarang yang melontarkan joke-joke segar, meramaikan suasana. Beberapa juga saling melempar memberikan makanan, minuman, dan rokok.

Saking padatnya antrian, saya baru bisa masuk ke GBK sekitar pukul 18.30.  Di dalam GBK, ribuan manusia sudah berkumpul, sehingga menyulitkan saya untuk bergerak maju ke depan. Terpaksa saya agak ke belakang supaya tetap dapat posisi di tengah. Saya masih takjub dengan panggung besar nan mewah di depan saya. Sejam penantian, hentakan alat music mulai terdengar, suara-suara check sound mulai bersautan. Dan ya benar saja, grup band pembuka, Seringai, akan segera tampil. Sebelum Seringai tampil, ternyata muncul Raisa. Dia segera mengomandoi massa di GBK untuk menyanyikan Lagu Kebangsaan Indonesia. Koor yang khidmat pun terjadi, menambah semangat para penonton.  Kemudian Seringai naik panggung dan bersiap. Seiring dengan alunan musik Seringai dimainkan, massa mulai bersemangat dan memanas, beberapa moshpit pun pecah. Saya cukup menikmatinya dengan headbang, karena jujur saya tidak begitu hapal liriknya. Sekitar pukul 19.30 Seringai telah menuntaskan misinya. Saya pun semakin berdebar-debar menanti kemunculan Metallica.

Kaki sudah capek berdiri, raga sudah capek menanti, check sound pun sudah dikumandangkan. Akan tetapi sang idola belum muncul-muncul juga. Satu jam saya menunggu, sedikit telat dari jadwal yang diberitahu panitia bahwa show dimulai pukul 8 malam. Akhirnya tepat pukul 20.30 lampu mulai menyala. Kamerapun menyorot wajah sang idola dan muncul di layar besar di samping dan belakang panggung. Teriakan histerispun membahana. What a wonderful atmosphere !!  I can’t describe what I’m feeling that time. It’s like a dream. Lagu pertama, Hit The Lights pun langsung menggemparkan seluruh penonton. Semua bernyanyi, berheadbang ria, dan moshpit pun pecah. Belum sempat saya menarik napas, langsung disambung lagu Master Of Puppets dan Fuel. Edan, energi mereka seperti tidak ada habisnya. Lagu-lagu selanjutnya pun dibawakan dengan garang. Never ending singing and headbanging. Waktu 2 jam lebih pun tak terasa. And I still can’t believe what I’ve been through that f*cking two hours. My leg still shaking, my voice gone, my brain still can’t think clearly, what an effect of this crazy concert.

Saya sama sekali tidak mengabadikan momen tersebut dengan kamera, karena saya ingin benar-benar meresapi momen luar biasa ini. Biar otak dan perasaan saja yang bercerita.

Foto-foto (sumber : metallica.com) :






Metallica Setlist at Stadium Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Indonesia

The Ecstasy of Gold
(Ennio Morricone song)

Hit the Lights
Master of Puppets
Fuel
Ride the Lightning
Fade to Black
The Four Horsemen
Cyanide
Welcome Home (Sanitarium)
Sad but True
Orion
One
For Whom the Bell Tolls
Blackened
Nothing Else Matters
Enter Sandman

Encore:
Creeping Death
Fight Fire with Fire
Seek & Destroy



Kamis, 30 Agustus 2012

Kembali ke perantauan

Hari ini, Senin tanggal 27 Agustus 2012 adalah hari terakhir saya berada di kampung halaman setelah 2 minggu pulang. Sengaja bangun pagi-pagi sekali untuk mengejar kereta prameks tujuan kutoarjo. Saat itu masih pukul 4 pagi dan adik saya mengantar saya ke Stasiun Tugu Jogjakarta. Tiba di stasiun langsung beli tiket dan setengah berlari langsung masuk kereta dan mencari posisi. Beruntung, beberapa detik kemudian kereta berangkat dan saya tidak ketinggalan.

Sejam kemudian sampailah saya di Stasiun Kutoarjo, di sini saya menunggu deka. Kami berencana balik ke ibukota bersama-sama menggunakan motor.Kurang lebih 1,5 jam saya disini. Kemudian deka datang dengan motor kebanggaannya. Dia juga membuat tempat bagasi di jok belakang, barang-barang kami taruh di sana. Tepat pukul 7 pagi, kami berangkat.

Perjalanan masih terbilang lancar dengan rute melewati Jalur Selatan, dari Kutoarjo bablas terus melewati Kebumen, Banyumas, hingga Cilacap. Motorpun digeber hingga titik maksimal, sedikit berbahaya tapi karena jalanan masih lengang jadi tidak apa-apa. Melewati Ciamis kami istirahat berhenti di Pom bensin unuk isi bensin, makan, sholat, dan istirahat. Saat itu sudah jam 12 siang.

Setelah istirahat dirasa cukup, kami melanjutkan perjalanan kembali pukul 13.00 . Kali ini saya yang di depan. Perjalanan dilanjutkan melewati Tasikmalaya-Ciawi-Nagrek dan kemudian masuk Kabupaten Bandung, disini mulai terjebak macet, karena mesti melewati kota Bandung yang padat. Perjalanan pun sedikit terhambat. Setelah melewati Bandung kami istirahat di Dangdanam (kalau tidak salah). Perjalanan kemudian dilanjutkan kembali menuju Purwakarta-Cikampek, disini mulai terjadi antrean kendaraan utamanya kendaraan roda empat atau lebih. Beruntung bagi kami, motor masih bisa melaju meski pelan-pelan melewati celah antar kendaraan. Kemudian sampailah kami di Cikampek. Dari Cikampek segera menuju Karawang-Cikarang-Bekasi, disini dituntut kewaspadaan ekstra, bagaimana tidak saat itu sudah malam dan lampu jalan tidak semua tempat ada sementara motor-motor banyak sekali. Bisa dikatakan pada jalur ini lawan kita hanya motor tapi jumlahnya banyak, dan kecepatannya sangat tinggi. Miris juga, bahkan lampu merah tetap diterobos oleh para pengendara motor ini. 

Sampailah kami di Bekasi sekitar jam setengah sepuluh malam. Kemudian masuk Ibukota Jakarta sekitar jam 10. dan mendarat dikosan dengan selamat sekitar jam 11 kurang.


Kembali ke perantauan, kembali membawa harapan-harapan, kembali menjalani rutinitas, kembali mengukir kisah yang diharapkan menjadi hal terindah yang dapat diceritakan kembali saat pulang ke kampung halaman  kelak. 
Tak ada oleh-oleh yang dibawa, hanya semangat dan motivasi baru untuk mengarungi kerasnya kehidupan anak rantau.

Senin, 06 Agustus 2012

For whom the bells toll

For whom the bells toll, sebuah lagu yang dibawakan oleh band metallica ini berulang kali saya mainkan di laptop, entah kenapa tidak ada bosan-bosannya. Grup Band yang digawangi oleh James Hetfield, Kirk Hammet, Lars Ulrich, dan Robert Trujillo ini memang menjadi salah satu band favorit saya. Dengan hits For whom the bells toll dari mereka seperti menghipnotis saya. Apalagi versi livenya benar-benar menambah semangat dan sedikit banyak berhasil melupakan masalah - masalah yang mendera. Give me some spirit to kick out the problem inside my head. Hell Yeahh !!

Make his fight 
On the hill in the early day 
Constant chill deep inside 

Shouting gun 
On they run 
Through the endless grey 

On they fight 
Are they right 
Yes, but who's to say? 

For a hill men would kill 
Why? 
They do not know 
Stiffened wounds test their pride 

Men of five 
Still alive through the raging glow 
Gone insane 
From the pain that they surely know 
[ Lyrics from: http://www.lyricsfreak.com/m/metallica/for+whom+the+bell+tolls_20092043.html ] 
For whom the bell tolls 
Time marches on 
For whom the bell tolls 

Take a look 
To the sky 
Just before you die 
It's the last time he will 

Blackened roar 
Massive roar fills the crumbling sky 
Shattered goal 
Fills his soul with a ruthless cry 

Stranger now 
Are his eyes to this mystery 
He hears the silence so loud 

Crack of dawn 
All is gone 
Except the will to be 

Now they see what will be 
Blinded eyes to see 

For whom the bell tolls 
Time marches on 
For whom the bell tolls...